Nemuriuta Flan

Posts Tagged ‘tokoh filsuf barat

philosophy

Seorang murid mengelub kepada gurunya “bapak menuturkan banyak cerita, tetapi tidak pernah menerangkan maknanya kepada kami. Jawab sang guru, Bagaimana pendapatmu, Nak, Andaikata seseorang menawarkan Buah padamu, apakah ia mengunyahkannya dahulu bagimu? (Anthony de Mello, Burung Berkicau)

FILOSOFISTIK atau pengetahuan megenai filsafat belumlah berarti berfilsafat. Belajar filsafat bukan hendak menjadi “ahli waris” seluruh pemikiran yang telah tertulis. Bukan pengulangan kembali, melainkan pengambilan kembali untuk penciptaaan ulang. Berfilsafat merupakan suatu cara berpikir yang tidak bersumber pada suatu  rangkaian kepercayaan, akan tetapi yang hanya berdasarkan pada pengalaman dan pemikiran dari pemikir sendiri. “Filsafat bukanlah suatu pemujaan terhadap sesuatu yang suci, akan tetapi suatu usaha untuk memperoleh pengertian sendiri”[1]

Belajar filsafat sebagai ikhtiar menemukan pemahaman yang jernih tentang segala sesuatu (terutama perihal dirinya sendiri) merupakan makna dari filsafat sendiri. Filosophia adalah “keinginan menjadi arif”, dan kegiatan belajar tentu saja berada dalam keinginan yang sama. Seorang pembelajar seharusnya terus-menerus menegaskan pada dirinya bahwa ia bukanlah “orang-orang yang arif” (sofis) walaupun telah menemukan banyak informasi dan wawasan, pembelajar yang baik adalah yang terus menerus penasaran pada soal bagaimana menjadi arif itu. Read the rest of this entry »

Filsafat proses dicetuskan pertama kali oleh Alfred North Whitehead walaupun benih pemikirannya sendiri bisa dilacak pada masa Yunani kuno saat zaman keemasan mula filsafat berawal. Tulisan ini mencoba menelaah beberapa poin pemikiran Whitehead secara singkat.

Metafisika Proses Whitehead

Ada beberapa konsep dan istilah sentral yang sering mengemuka dalam pembahasan tentang filsafat proses Whitehead, yakni; proses (process), entitas aktual (actual entity), prehensi (prehention), prinsip kreativitas (creativity), objek-objek abadi (eternal objects), dan Tuhan (God). Point-point tersebut pada dasarnya saling terkait, tak terpisah dalam membentuk sistem filsafat Whitehead secara utuh.

Whitehead (1861 – 1947), pada dasarnya lebih menggunakan istilah “kosmologi” daripada “metafisika” untuk menyebut rancang pandang dunia buat sistem filsafatnya. Metafisika atau filsafat spekulatif ini dirumuskannya sebagai; “the endeavour to frame a coherent, logical, necessary system of general ideas in terms of which every element of our experience can be intrepreted.” (usaha untuk merumuskan suatu sistem gagasan-gagasan umum yang logis dan koheren, dimana setiap unsur pengalaman dengannya dapat dijelaskan (Process and Reality, Canada, 1979). Read the rest of this entry »