Nemuriuta Flan

Posts Tagged ‘teologi

philosophy

Seorang murid mengelub kepada gurunya “bapak menuturkan banyak cerita, tetapi tidak pernah menerangkan maknanya kepada kami. Jawab sang guru, Bagaimana pendapatmu, Nak, Andaikata seseorang menawarkan Buah padamu, apakah ia mengunyahkannya dahulu bagimu? (Anthony de Mello, Burung Berkicau)

FILOSOFISTIK atau pengetahuan megenai filsafat belumlah berarti berfilsafat. Belajar filsafat bukan hendak menjadi “ahli waris” seluruh pemikiran yang telah tertulis. Bukan pengulangan kembali, melainkan pengambilan kembali untuk penciptaaan ulang. Berfilsafat merupakan suatu cara berpikir yang tidak bersumber pada suatu  rangkaian kepercayaan, akan tetapi yang hanya berdasarkan pada pengalaman dan pemikiran dari pemikir sendiri. “Filsafat bukanlah suatu pemujaan terhadap sesuatu yang suci, akan tetapi suatu usaha untuk memperoleh pengertian sendiri”[1]

Belajar filsafat sebagai ikhtiar menemukan pemahaman yang jernih tentang segala sesuatu (terutama perihal dirinya sendiri) merupakan makna dari filsafat sendiri. Filosophia adalah “keinginan menjadi arif”, dan kegiatan belajar tentu saja berada dalam keinginan yang sama. Seorang pembelajar seharusnya terus-menerus menegaskan pada dirinya bahwa ia bukanlah “orang-orang yang arif” (sofis) walaupun telah menemukan banyak informasi dan wawasan, pembelajar yang baik adalah yang terus menerus penasaran pada soal bagaimana menjadi arif itu. Read the rest of this entry »

———– Sambungan dari: Menggagas Islam Proses (Bagian 1)

kabahHadits ini diinterpretasi oleh Mahmud Thaha menjadi, “Tahap awal penyebaran Risalah Pertama (Risalah berdasar ayat-ayat Madaniyah) ditujukan kepada kaum beriman (Mukminin), sementara sikap hidup pribadi Nabi sendiri menunjukkan ketundukan sejati kepada Allah (itulah Muslimin), kepatuhan yang mempunyai tahapan lebih tinggi dari sekadar keyakinan”.

Dari segitiga haykal, madkhal-markaz di atas dapat dibuat satu skema proses perwujudan diri dalam pencarian diri kemanusiaan. Seperti dikemukakan di atas bahwa proses pewujudan diri menuju satisfaction ditentukan oleh kemampuan konkresi (pertumbuhan bersama menjadi satu kesatuan baru dari banyak unsur masa lalu yang diwarisi, dan atau dari entitas aktual yang mencapai satisfaction). Muhammad adalah entitas aktual yang telah sanggup menemukan markaz dari kehidupan. Karena itu dalam proses perwujudan diri, semua entitas aktual harus menjadikan Muhammad sebagai rujukan.

Dalam syahadat terdapat dua unsur penting, pertama forma La….Illa; kedua forma haykalmadkhalhaykal. Keduanya adalah sumber petualangan untuk memecah ilusi yang mengitari kebenaran. Para sufi menjadikan forma ini sebagai cara untuk merasakan kehadiran Allah secara individual. Lewat forma La…Illa…sufi membongkar ilusi. Read the rest of this entry »

al-quran1

Fides Quarens intellectum, iman membutuhkan rasionalitas, demikian ungkapan St Anselmus yang merumuskan pentingnya rasionalitas bagi penguatan iman. Hubungan iman dan rasionalitas ini menjadi bagian penting dari negosiasi antara iman dan rasionalitas dari masa ke masa. Dalam hubungan tersebut, iman dan rasionalitas tidak lagi tampil sebagai dua hal yang saling berjauhan namun saling berhubunga dalam pertemanan kritis. Saat rasionalitas dalam paham manusia berubah, iman yang diasumsikan berada dalam hati mengenakan rasionalitas yang juga berubah. Apa yang dilakukan ahli Kalam dan Filsuf yang mengenakan logika Aristotelian dalam  perumusan sifat-sifat Tuhan, merupakan contoh yang menguatkan adagium tersebut di atas.

Saat ini dunia Islam sedang berada dalam cakrawala rasionalitas dekonstruktif (dalam tataran keilmuan) dan liberalisme (dalam tataran politis). Keduanya mendesak dan meminta perumusan ulang terhadap iman dan konsepsi ajaran agama-agama. Liberalisme mensyaratkan semua wacana untuk mengemukakan kepentingan kebebasan manusia dalam ukuran humanisme universal, itulah rasionalitasnya dan begitulah kemudian locus bagi iman. Read the rest of this entry »