Nemuriuta Flan

Posts Tagged ‘filsafat ilmu

philosophy1Dari saya, kalian tidak akan belajar filsafat. Saya mengajar kalian berfilsafat. Bukan pemikiran-pemikiran untuk ditiru, akan tetapi bagaimana caranya berfikir sendiri” (Imanuel Kant)

Apakah Filsafat itu? Banyak ragam jawaban yang bisa diajukan untuk menjawab pertanyaan ini.

“…filsafat adalah tidak lebih dari suatu usaha untuk…menjawab pertanyaan-pertanyaan terakhir, tidak secara dangkal atau dogmatis seperti yang kita lakukan pada kehidupan sehari-hari atau bahkan dalam kebiasaan ilmu pengetahuan. Akan tetapi secara kritis, dalam arti: setelah segala sesuatunya diselidiki problem-problem apa yang dapat ditimbulkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang demikian itu dan setelah kita menjadi sadar dari segala kekaburan dan kebingungan, yang menjadi dasar bagi pengertian kita sehari-hari…” (Bertrand Russel) Read the rest of this entry »

Advertisements

“. . . Pergolakan arus dunia, pasang-surut ilmu pengetahuan, mungkin pada akhirnya hanyalah sebuah lingkaran literacy yang akan mengurung benak setiap generasi. Lingkaran itu bak gerbang panopticon yang terus menerus mengalpa-ingatkan bahwa semesta bukanlah ‘roti tawar’. Ia mungkin lezat, namun toh tetap merangsang kita untuk senantiasa mengolesnya dengan perihal yang lain.

Sementara, di samping segala stimulus itu, ribuan tahun lamanya sejarah telah menularkan apa yang mesti dikenal sebagai silabus quantum dialektika. Sesuatu yang takkan mudah untuk dipahami. Apalagi untuk diwarisi. Sejenis anak kehidupan yang begitu dekat namun belum jua tersentuh adanya. Sedangkan kita di sini, melanggengkan kesetiaan pada ‘ia’ yang sehadir-lewat, kemanakah kita akan berpaling..? begitu tolol.”

Berabad lamanya manusia menyertai evolusi semesta. Menitiskan usaha pencarian akan kepelikan yang tak kunjung terungkap. Diilhami kesadaran yang menghunjam, nalar yang menghantam, alih-alih rahasia terbungkam, manusia justru hanya bisa menjahit waham: ia telah merangkum segalanya. Read the rest of this entry »

Relung . .

Carut marut perjalanan pemikiran manusia atas perihal diri dan semesta di luarnya mungkin tak akan pernah setia pada ujung. Sesaat jawaban sebelum lindah riuh kembali meredam. Gumam absurditas Camus, hentakan puitis Holderin ala Heidegger, teriakan zarathustra yang disabdakan nietzsche, hingga luapan kesenduan tatap Kao Feng di timur ujung, semakin meneguhkan atas hikayat ini. Senjakala rasionalitas manusia, begitulah penulis sering menyebutnya. Sejak mitologi dihancurkan dalam bubat berabad antara akal dan iman, kini segalanya seolah menjadi semakin tak jelas. Tapi memang, tanpa renung yang tak mengenal ujung, rasionalitas manusia hanya akan menjelma fakultas hampa.

Sunyi . .

Di tengah terik kegamangan tersebut pula seringkali wahyu dibutuhkan. Hanya saja, luhurnya firman jauh berbanding dengan kemampuan pencerapan. Jangankan untuk dimaknai, dalam mengucapkan kembali semua kesampaian tersebut pun, manusia butuh dimensi ekstra kesabaran dan pembelajaran. Ruang, waktu, kanvas hamparan eksistensi manusia terlampau menjerat kesucian dalam kubang kotor hasrat bumi. Padahal agar firman terdedahi, manusia semestinya butuh kejernihan benak dan hati. Read the rest of this entry »

Filsafat proses dicetuskan pertama kali oleh Alfred North Whitehead walaupun benih pemikirannya sendiri bisa dilacak pada masa Yunani kuno saat zaman keemasan mula filsafat berawal. Tulisan ini mencoba menelaah beberapa poin pemikiran Whitehead secara singkat.

Metafisika Proses Whitehead

Ada beberapa konsep dan istilah sentral yang sering mengemuka dalam pembahasan tentang filsafat proses Whitehead, yakni; proses (process), entitas aktual (actual entity), prehensi (prehention), prinsip kreativitas (creativity), objek-objek abadi (eternal objects), dan Tuhan (God). Point-point tersebut pada dasarnya saling terkait, tak terpisah dalam membentuk sistem filsafat Whitehead secara utuh.

Whitehead (1861 – 1947), pada dasarnya lebih menggunakan istilah “kosmologi” daripada “metafisika” untuk menyebut rancang pandang dunia buat sistem filsafatnya. Metafisika atau filsafat spekulatif ini dirumuskannya sebagai; “the endeavour to frame a coherent, logical, necessary system of general ideas in terms of which every element of our experience can be intrepreted.” (usaha untuk merumuskan suatu sistem gagasan-gagasan umum yang logis dan koheren, dimana setiap unsur pengalaman dengannya dapat dijelaskan (Process and Reality, Canada, 1979). Read the rest of this entry »