Nemuriuta Flan

Posts Tagged ‘Aristoteles

philosophy1Dari saya, kalian tidak akan belajar filsafat. Saya mengajar kalian berfilsafat. Bukan pemikiran-pemikiran untuk ditiru, akan tetapi bagaimana caranya berfikir sendiri” (Imanuel Kant)

Apakah Filsafat itu? Banyak ragam jawaban yang bisa diajukan untuk menjawab pertanyaan ini.

“…filsafat adalah tidak lebih dari suatu usaha untuk…menjawab pertanyaan-pertanyaan terakhir, tidak secara dangkal atau dogmatis seperti yang kita lakukan pada kehidupan sehari-hari atau bahkan dalam kebiasaan ilmu pengetahuan. Akan tetapi secara kritis, dalam arti: setelah segala sesuatunya diselidiki problem-problem apa yang dapat ditimbulkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang demikian itu dan setelah kita menjadi sadar dari segala kekaburan dan kebingungan, yang menjadi dasar bagi pengertian kita sehari-hari…” (Bertrand Russel) Read the rest of this entry »

ludwig-wittgensteinPendahuluan

Sejarah falsafah bahasa dalam tradisi Barat dimulakan oleh ahli-ahli falsafah Yunani sejak abad ke-6 S.M. dengan Heraclitus sebagai pelopornya (Borgmann 1974: 7). Sesudah itu, muncul golongan sofis yang memperteguh uraian Heraclitus tentang kesatuan antara bahasa dengan realiti. Zaman Heraclitus dan golongan sofis itu dianggap sebagai zaman permulaan tumbuhnya pemikiran tentang falsafah bahasa. Bidang falsafah bahasa baru menjadi suatu kajian ilmiah pada abad ke-5 S.M. Tokoh penting yang menyemarakkan perkembangan falsafah bahasa sebagai kajian ilmiah ialah Plato, Aristoteles, dan kumpulan Stoik. Penerokaan bidang falsafah bahasa menjadi kian luas dan mendalam di tangan ahli-ahli falsafah Zaman Pertengahan. Tokoh-tokoh utamanya, antara lain, ialah John Buridan, Thomas Erfurt, dan Thomas Aquinas. Dalam rencana ini, dibincangkan pula perkembangan falsafah bahasa dalam tradisi Barat pada zaman moden.

Tahap Kebangkitan Era Modern

Pada pengkaji falsafah Barat sependapat bahwa era falsafah moden Barat bermula dengan Rene Descartes (1596-1650) yang terkenal dengan kaedah “Kesangsian Cartesian” dalam menjawab persoalan epistemologi tentang kebenaran ilmu (Lihat misalnya Bertrand Russell 1993: 666, Wolff (1992: 194), dan Borgmann 1974: 68). Read the rest of this entry »

moral-philosophySebelum kita mulai, Anda mungkin tergoda untuk bertanya, “Well, memangnya kenapa?” Memangnya perlu kita repot-repot memikirkan masalah-masalah rumit ilmu pengetahuan dan filsafat? Terhadap pertanyaan semacam ini, ada dua kemungkinan jawaban. Jika yang dimaksudkan dengan pertanyaan itu adalah: apakah kita perlu tahu tentang hal-hal itu agar dapat meneruskan hidup kita sehari-hari, tentu jawabannya adalah tidak. Tapi, jika kita ingin mendapat satu pemahaman rasional mengenai dunia yang kita diami ini, dan proses-proses dasar yang bekerja di alam, masyarakat dan cara kita untuk memandangnya, maka persoalannya akan jadi lain.

Aneh sebetulnya, tapi setiap orang memiliki “filsafat”-nya masing-masing. Sebuah filsafat adalah cara untuk memandang dunia. Kita semua yakin bahwa kita tahu bagaimana membedakan yang salah dari yang benar, yang baik dari yang buruk. Hal-hal inilah yang sebenarnya merupakan hal-hal rumit yang telah menyita pemikiran dari para pemikir terbesar di dunia sepanjang sejarah. Ketika kita dihadapkan dengan fakta yang mengerikan akan hadirnya kejadian-kejadian seperti perang saudara di Yugoslavia, kemunculan kembali pengangguran massal, pembantaian di Rwanda, banyak orang akan mengakui bahwa mereka tidak memahami hal-hal ini, dan seringkali mereka jatuh ke dalam rujukan-rujukan kabur semacam “watak manusia”. Read the rest of this entry »

“. . . Pergolakan arus dunia, pasang-surut ilmu pengetahuan, mungkin pada akhirnya hanyalah sebuah lingkaran literacy yang akan mengurung benak setiap generasi. Lingkaran itu bak gerbang panopticon yang terus menerus mengalpa-ingatkan bahwa semesta bukanlah ‘roti tawar’. Ia mungkin lezat, namun toh tetap merangsang kita untuk senantiasa mengolesnya dengan perihal yang lain.

Sementara, di samping segala stimulus itu, ribuan tahun lamanya sejarah telah menularkan apa yang mesti dikenal sebagai silabus quantum dialektika. Sesuatu yang takkan mudah untuk dipahami. Apalagi untuk diwarisi. Sejenis anak kehidupan yang begitu dekat namun belum jua tersentuh adanya. Sedangkan kita di sini, melanggengkan kesetiaan pada ‘ia’ yang sehadir-lewat, kemanakah kita akan berpaling..? begitu tolol.”

Berabad lamanya manusia menyertai evolusi semesta. Menitiskan usaha pencarian akan kepelikan yang tak kunjung terungkap. Diilhami kesadaran yang menghunjam, nalar yang menghantam, alih-alih rahasia terbungkam, manusia justru hanya bisa menjahit waham: ia telah merangkum segalanya. Read the rest of this entry »