Nemuriuta Flan

Senjakala Rasionalitas Manusia

Posted on: July 21, 2009

Relung . .

Carut marut perjalanan pemikiran manusia atas perihal diri dan semesta di luarnya mungkin tak akan pernah setia pada ujung. Sesaat jawaban sebelum lindah riuh kembali meredam. Gumam absurditas Camus, hentakan puitis Holderin ala Heidegger, teriakan zarathustra yang disabdakan nietzsche, hingga luapan kesenduan tatap Kao Feng di timur ujung, semakin meneguhkan atas hikayat ini. Senjakala rasionalitas manusia, begitulah penulis sering menyebutnya. Sejak mitologi dihancurkan dalam bubat berabad antara akal dan iman, kini segalanya seolah menjadi semakin tak jelas. Tapi memang, tanpa renung yang tak mengenal ujung, rasionalitas manusia hanya akan menjelma fakultas hampa.

Sunyi . .

Di tengah terik kegamangan tersebut pula seringkali wahyu dibutuhkan. Hanya saja, luhurnya firman jauh berbanding dengan kemampuan pencerapan. Jangankan untuk dimaknai, dalam mengucapkan kembali semua kesampaian tersebut pun, manusia butuh dimensi ekstra kesabaran dan pembelajaran. Ruang, waktu, kanvas hamparan eksistensi manusia terlampau menjerat kesucian dalam kubang kotor hasrat bumi. Padahal agar firman terdedahi, manusia semestinya butuh kejernihan benak dan hati.

Tetapi firman sungguhnya adalah sebongkah grammatologi adiluhung yang menawarkan kebenaran dengan lompatan keyakinan (leap of faith). Darinya, nalar mestilah aksiden, sekadar jendela untuk menengok sekeliling ketika interpretasi mesti dilantunkan. Kebenaran adalah idea transenden yang luput dari sanggahan. Fondasi metafisiknya dibangun dari logos murni yang menyangkal permainan. Fakultas kedirian untuk menjemput pengetahuan tentang-Nya adalah kehadiran. Episteme-nya dihamparkan atas untaian firman yang membelah semesta jadi sakral dan profan. Dan kessage sang Hermes adalah bundelan paradigmatik yang merangkum jawaban langit atas kerumitan manusia menerjemahkan semesta juga Tuhan.

Justru di sanalah masalah bermula. Mengadopsi sepercik kebenaran murni yang inherent dalam proposisi-proposisi pelandasannya menjadikan Hermes sebagai pembawa firman sekadar mitos. Episteme-nya hadir secara genetik. Insan cukup mendengungkan sistematika masalah-masalah lainnya dengan penurunan modus logik dari proporsi kebenaran genetik yang sudah ditemukan. Sebuah hipotesis yang bisa kita tunjuk usulnya dari pewarisan tradisi oleh ketaksadaran sosial sebelum ‘hidayah’ nalar datang menengok. Hesiodos dan Orpheus konon adalah biang pemikir yang membaca dalam arti ini. Bisakah ini dipertanggungjawabkan?

Ini belum ditambah ketika sejarah pemikiran menyajikan pada ia bahwa semesta hanyalah perbendaharaan benak dan bahasa. Pengetahuan dan kebenaran tak lebih dari rentatan kosakata yang menampilkan realitas dalam permainan struktur kebahasaan dengan logika. Apapun objeknya, dimanapun konteksnya, dan kapanpun manifestasinya, sang Ada tetaplah terbenam dalam lumpur bahasa. Begitu juga khazanah perenungan teologis. Fondasi metafisiknya disederhanakan dalam rumitnya persinggungan kemiskinan bahasa dengan bayang-bayang absolut kemahaan Realitas Ultim yang ingin dijelaskan. Hasilnya; adalah kepelikan bahasa Hermes yang tak merestui dekonstruksi dan permainan, kebenaran via negativa yang hanya bisa dibuktikan setelah manusia melalui barzakh.

Apalah daya, sang Hermes harus menyandarkan ‘titah’ dalam ketidakjelasan ‘entah’. Manusia; di yakin Hermes, sebenarnya bukanlah sebongkah ketololan, hanya saja ia kadang terlalu angkuh menerima pemberian. Terlalu miskin untuk melihat kekayaan. Dan ia, pada akhirnya musti terdiam. Mengukur lorong-lorong sunyi yang hanya sejengkal dari intuisi manusia. Hermes; raut kegelisahan do’a orang-orang setiap usai peristiwa.

Riuh . .

Berakhirkah hikayat tersebut? Tidak. Oleh sisa-sisa kepercayaan pada akal dan warisan semangat tualang atas semesta, manusia terus melaju meski tanpa dewa. Logos ditetapkan, bahasa dimapankan, interpretasi diluaskan dan segala anasir yang menyokongnya untuk memperoleh makna (meluruhkan cara ber-ada) pun dituliskan. Berabad kemudian menjelmalah literatur, peristiwa, fenomena, dan pelbagai tanda yang tidak hanya menjejali benak kita lewat selubung tafsir dan rumusan masa lampau (para pendahulu), namun juga dengan ‘langue’, world view, dan kata-kata yang melarang kita untuk mengindahkan beda.

Namun, bagaimana dengan rasionalitas itu sendiri? Adakah manusia berhasil mengendapkan keistimewaan fakultas nalar dalam dirinya pada kesaktian arcane stanctum of ratio? Benarkah penghujatan atas keberadaannya adalah sebuah proses emansipasi atas diri, semesta, juga pengetahuan? Sungguhkah ia tak bisa dimusnahkan dan dibuang jauh-jauh sebab sifat kesejagadannya memikat setiap seru perlawanan?

Taksa ?! . . sebab ambang teritori dimensi ruang dimana manusia tinggal, menelusuri palung takdir dan nasib, mengharuskan adanya perlawanan atas universalitas watak dan perangai sebuah pemikiran, metodologi, bahkan rasionalitas. Barat, Timur tak pernah bersua tatap dalam satu wadah research dan paradigma atas upaya pemahaman semesta. Laiknya X dan Y, Nietzsche dan Kant, Asterik dan Obelik, Cinta dan Rangga — Timur dan Barat akan selalu, mungkin searah namun hampir tak pernah seruas jalan. Taksa ?! . . sebab ziarah rasionalitas manusia adalah layatan dialektika pemberontakan musuh-musuhnya: desire, will, LG dll. Destruksi Asy’arian, dekonstruksi Derridian, oposisi Dyonisian, adalah bongkah-bongkah usaha yang menisankan kemapanan Bochenskyan (di titik ini sebenarnya apa-apa yang telah terjadi dari pelbagai perang atas keterkaguman manusia terhadap pesona rasionalitas, adalah bentangan upaya yang secara fiskal mungkin berseberangan, namun secara trans-faktual adalah sejajar dalam barisan epistemo-ontologis. Apa yang ditertibkan oleh kant dan apa yang diacak-acak oleh Nietzsche tak lebih penerusan upaya penyidikan atas rahasia jagad raya. Bedanya mungkin hanya pada peletakan poros beranjak pengaliran ‘kodrat’ tersebut.) Taksa ?! . . sebab nada-nada post-rasionalitas (termasuk gelagat ganjil wacana post-modernisme, pembelaan atas tradisi puisi) merupakan nyanyian sumbang yang meluruhkan korespondensi-positivitas dalam neraka kebisuan. Apa yang tersuguhkan kemudian hanyalah percikan hikayat tentang (lagi-lagi) kegagalan ia melukiskan gairah pengembaraannya terhadap pelik-bening semesta.

Untungnya pula ada sisa keceriaan di sana. Meski dihujat, dicabik eksistensinya, direnggut dari singgasananya, nalar (rasionalitas, baik yang murni, lentur, apik dst) toh’ fakta dunia adalah hamparan remah-remah ironi keyakinan akan fungsionalitasnya. Globalisasi, modernitas, berikut anak-anak haramnya adalah antrian panjang kepercayaan atas ia, yang jelas tak mudah dibubarkan. Agaknya hingga renta menuntun ia pada pualam senja, hingga waktu meluluhkan hadirnya pada persada, kita (entah siapa) kan tetap ada yang menemaninya dengan kesetiaan (meski lugu) untuk meneruskan kisah ‘buntung’ tersebut.

Yap .!! inilah perjalanan pulang Odissey. Sehabis menerima kutukan yang tak pernah diinginkan apalagi diyakini, ia hanya harus merasakan sesaknya sebuah kepercayaan (sekaligus kepongahan) dalam sebentuk hukuman (menusukkan jarum pada matanya hingga buta). Persis rasionalitas. Manusia sesaat mengobati kegamangannya lewat untaian pengetahuan yang diluruskan oleh rasionalitas, tiba pada pahitnya hasilan yang menuding keberadaan rasionalitas sebagai virus kehancuran. Kitchs untuk epistemologi. Begitu riuh, atau ricuh? . .

Barat . .

Sayangnya, hikayat tersebut takkan lengkap tanpa menilik modus karakter generik tualang rasionalitas yang berlaku di masing gelanggang pengetahuan secara (agak) sistemik. Kita akan melihat hal tersebut pertama mungkin hanya dari klasifikasi teritoris (yang sejatinya terlalu mereduksi) yakni dunia Barat dan Timur, selanjutnya memungut cuilan harap di antara yang mungkin tersisa dari keduanya.

Berbicara lewat kata barat adalah sajak usang tentang tradisi filosofis pencerahan yang dimukaddimahi oleh cogito Descartes dan (dengan sengaja mengenyampingkan runyamnya senyum diskursus post-modernitas dikarenakan reasons tertentu) disudahi oleh tamsil burung hantunya dialektika absolut hegel.

Secara umum rasionalitas Barat diselenggarakan atas restu keraguan metodis, penyelidikan empiris, penetapan para-logos-digma, pengarahan positivistik dalam ayat-ayat August-ilmiah-Comte dan Bacon. Siapapun yang membaca kenangan itu akan membilangnya sebagai ‘kisah tentang nalar yang ditertibkan’. Penertiban atas karya dan kerja nalar serta lebih jauhnya postulat kebenaran inilah yang kemudian meranak-pinakkan klausul metodologis dualistik (cara memandang dunia yang membagi objek dalam kategori oposisi-biner, saling berlawanan: laki-laki-perempuan, subjek-objek, hitam-putih, Bush-Laden, dll.), atomistik (pola tatap yang mencacah keluasan semesta dalam jabaran atom dan atom sebagai anasir pembentuk yang bisa dipilah dan diamati cara kerjanya, dipastikan arah dan momentumnya hingga ditebak kebenarannya), induktivistik (metode penyelidikan yang bermula dari penarikan hipotesis secara general dan diderivasi buat sub-sub lainnya), monistik (ketunggalan inherensi proporsi bahasa penelitian dan universalitas putusan), mekanistik (melihat jagad raya sebagai susunan balok-balok bangunan yang berjalan atas dasar hukum tertentu yang lurus persis sebuah mesin berikut komponen-komponen pembentuknya), samarnya subjektivitas (memunculkan klaim objektivitas berlandaskan adanya proses laboratory research dan keterlepasan pengaruh peneliti dari objek percobaan), representasionalistik (adanya anggapan keberjarakan pikiran dan objek waham oleh mediasi keterwakilan objek secara semiotis lewat bahasa) dan status quo proporsi pijak (logos) sebuah penalaran (anggapan-anggapan dasar atau proto gagasan yang menopang totalitas pengujian dan pencarian atas kebenaran, seperti anggapan bahwa rasio adalah satu-satunya medium yang mampu menghantarkan manusia pada kebenaran).

Inilah diklat kebenaran yang bisa dilacak pada falsafah Aristotelian. Sebuah diklat kebenaran yang pernah dicela oleh Popper dengan melontarkan prinsip falsifikasi. Bagi Popper, nalar yang telah ditertibkan demikian hanya mengejar ‘kepastian’ (yang jelas-jelas tak pernah dicapai, bahkan terkadang cacat logika), sedang falsifikasi akan menuntut keakraban. Sebab kebenaran tidak pernah bisa dipastikan, manusia hanya harus mampu mengakrabinya lewat dempulan pengujian akan kesalahan secara terus-menerus. Sejauh manakah ia bisa bertahan? Seberapa lama ia tak diganggu revolusi paradigma, itulah yang mungkin kita pegang sebagai landasan.

Akan tetapi, tetap saja rasionalitas ala falsifikasi popper tersebut belum bisa melepaskan jerat linieritas metodis kesatuan gramatika kebenaran Barat. Kritik Feyerabend lewat againts method-nya adalah ajakan untuk memerangi Popper dan para pendahulunya agar membiarkan keterceraian dan pluralitas gramatika kebenaran tersebut.

Timur . .

Lantas bagaimana dengan Timur itu sendiri? Ada beberapa kenyataan menarik yang mungkin bisa mengawali paraghraf ini yakni; meski terkadang litani filosofis tiap-tiap daerah dan tradisi tak berkait silsilah, dunia Timur hampir mempunyai kesamaan corak (tanpa mengindahkan pelbagai keragaman bentuk pikir yang juga melingkupinya). Baik iru jenis kearifan spiritual klasik (Tao, Budhisme, Santoisme dll) hingga khazanah diskursus yang bersumber dari kebakuan religi (Islam: teologi, sufisme, filsafat dsb).

Pelbagai pemikiran tersebut dibuahkan dari rasionalitas yang bersifat holistik (cara penilaian yang bermula dari anggapan bahwa ada keterkaitan antar keseluruhan oponensi alam semesta sebagai sistem hidup yang mengalami perubahan evolutif, sehingga ia sangat menghindari pola reduksionisme-atomistik ala positivisme) undeterministik (ia berbicara dalam beranda proses sebagai primasi eksistensi jagad raya bahkan manusia itu sendiri, yang akhirnya gramatika kebenaran selalu terikat dengan term pluralitas dan perubahan), relasionalistik (anggapan bahwa ragam faktualitas, kesadaran, bahasa adalah saudara yang saling bergandengan dalam jaring-jaring kehidupan) dan relativistik (pengandaian bahwa keutamaan bukanlah pada pastinya sebuah putusan, namun pada proses pencarian, sebab sebagaimana semesta yang berubah, kebenaran juga ikut hanyut dalam pasang surut gelombang pengembaraan tersebut).

Di lain sudut rasionalitas Timur juga mengakui bahwa di luar prinsip epistemologis korespondensional terselip sebentuk episteme yang berkiblat pada kehadiran (hudlury). Apa yang digagas oleh kalangan pemikir Mu’tazilah dalam Islam misalnya, adalah pengakuan bahwa rasionalitas bisa lentur mengukur batas bahasan dan kemampuan. Ia bisa diperluas dengan bantuan fakultas lain kedirian manusia itu sendiri (sebentuk metodologi yang bersifat Platonian, sebab tidak melulu terpaku pada realitas faktual-material sebagai medium intensionalitas benak, tapi juga pada proses anamnesis melalui prinsip satisfaksi spiritual).

Huyung . .

“Sebab, dunia begitu indah maka kita pun dihadirkan”, begitulah ucapan lirih Robert Mc Certam dalam ‘beautiful mind’, mengingatkan kita bahwa jangan sampai telikung rasionalitas terlalu memukau mata kita hingga meluputkan arti lain kehadiran: mensyukuri keterhuyungan. Apa yang terdelik dari lembaran di atas adalah sebentuk perdebatan yang kemudian tak pernah menyua akhir kecuali gagasan-gagasan tambahan seperti meta filsafat-nya Collin Mc Ginn (filsafat atas filsafat). Terlalu banyak yang telah tumbuh dan terbenam. Maka, sedalam mana kita terjerumus adalah keniscayaan untuk selalu belajar mengingat apa yang terlupa. Belajar ruk menelaah apa yang mungkin hanya hening, sebab pelita seringkali bersemayam di sana.

Telas sapa: ‘solilokui’ ini, dalam kerancuannya hanya ingin menegaskan bahwa suatu tamasya pencarian adalah keriuhan yang selalu berujung pada kesunyian, kejelasan yang berakhir pada ketidakjelasan (dalam ketidakjelasan, konon kita lebih memerlukan kesendirian, ‘solitude’). Ia juga merupakan sebongkah upaya yang membenamkan pelakunya dalam keyakinan: kelak ia kan teredam, dan apa yang tertinggal hanyalah apa yang tandai dengan diam.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: