Nemuriuta Flan

Filsafat Yang Diam

Posted on: July 21, 2009

“. . . Pergolakan arus dunia, pasang-surut ilmu pengetahuan, mungkin pada akhirnya hanyalah sebuah lingkaran literacy yang akan mengurung benak setiap generasi. Lingkaran itu bak gerbang panopticon yang terus menerus mengalpa-ingatkan bahwa semesta bukanlah ‘roti tawar’. Ia mungkin lezat, namun toh tetap merangsang kita untuk senantiasa mengolesnya dengan perihal yang lain.

Sementara, di samping segala stimulus itu, ribuan tahun lamanya sejarah telah menularkan apa yang mesti dikenal sebagai silabus quantum dialektika. Sesuatu yang takkan mudah untuk dipahami. Apalagi untuk diwarisi. Sejenis anak kehidupan yang begitu dekat namun belum jua tersentuh adanya. Sedangkan kita di sini, melanggengkan kesetiaan pada ‘ia’ yang sehadir-lewat, kemanakah kita akan berpaling..? begitu tolol.”

Berabad lamanya manusia menyertai evolusi semesta. Menitiskan usaha pencarian akan kepelikan yang tak kunjung terungkap. Diilhami kesadaran yang menghunjam, nalar yang menghantam, alih-alih rahasia terbungkam, manusia justru hanya bisa menjahit waham: ia telah merangkum segalanya. Ekspansi jagad rupanya ditakdirkan untuk menaungi perjalanan tiap generasi dengan rahasia yang terus berlipat. Selalu saja ada kemungkinan bagi kebaruan yang menyanggah setiap penemuan. Kebenaran tak pernah bertahan. Perenunganlah yang menyua kemapanan. Dan . . . . . . .

Pada perkiraan akan hari-hari akhir semesta, entah filsafat, sains, juga agama (buah usaha panjang rasionalitas) tetap saja bergesekan dalam kebisuan. Menghayati jejak-jejak keruntuhan yang tercermin di biasnya pemahaman. Namun, belum pun kegelisahan padam, tiba-tiba semuanya tercekat dalam krisis yang muram. Tanah harapan yang dijanjikan oleh semangat penuntasan, ternyata hadir dalam bentuk hancurnya peradaban. Logos menuai kasus, eudamonia menghantarkan nista, bahasa menorehkan dilema. Lalu, kita pun harus terdampar di keasingan. Siapakah diri? dimanakah lampiran asal? Adakah kebebasan juga kebahagiaan? Kemanakah kita akan berpulang? dan setumpuk pertanyaan lainnya kembali menjejaki benak, meski tak setiap saat menyeruak.

*****

Sekadar membaca filsafat, mengarungi antartika pikir, pernah kita temukan sebentuk benak yang berusaha untuk bertanya perihal semesta. Nalar itu mengatakan bahwa tak ada sesuatu yang tak berawal. Semuanya bermula dari nihiltas (creatio ex nihilo) yang terkesan taksa. Sebongkah ketiadaan yang harus bersandar pada ‘ke-ada-an’. Tuhan ad infinitum. Dzat ab aeterno yang sengaja mengosongkan sebagian diri-Nya agar tersembul hierarki manifestatif yang mengesankan kebesaran-Nya (untuk hal ini, iman kita bermula. Mengalahkan nalar lewat proses ekslusi yang sederhana. Bahwa ada yang mesti dipotong setelah renungan tentang rangkaian tak terbatas dari muasal keterciptaan itu. Dan konon, untuk mengerti kita hanya butuh intuisi yang pasrah, bukan rasio yang gelisah)

Sebab keraguan, kedahagaan atas pengajaran dan kebernilaian arti ‘mengetahui’, kita terus berlari. Mengejar bayang dan jejak mereka yang telah memuaskan kelana ‘kebijaksanaan’ ini; Plato, Aristoteles, Empedocles, Heraklitos, Plotinus, Thales dan lainnya. Sungguh mengejutkan, alih-alih mendewasakan, kita di baynyak masa hanya menemukan celah perbedaan kalam (begitu tolol…). Dalam Plato kita disuramkan oleh catatan tentang eksterioritas tubuh. Fisik ragawi hanyalah sampah pembungkus yang mesti dilenyapkan. Sebab, kita sebenarnya adalah reretan eidos yang abadi. Yang sejatinya spiritualis, namun tersungkur oleh goresan dualistik yang mesti ditebus dengan kejatuhan pada alam materialis. Dan segala yang harus diusahakan hanyalah anamnesi suci untuk merebut eudaimonia diri. Begitulah arti memahami. Pada Aristoteles pikiran kita ditulisi catatan substansial yang diselaputi titik-titik aksidental. Manusia dan alam, dalam proses panjang melarutkan berbagai kategori causa pada evolusi telelogis menuju ‘arsy Ia yang ‘diam’ (unmoved mover), harus bergembira bahwa mereka tak musnah sejatinya. Dibalik semua perubahan, ada yang tetap kekal. Inilah linieritas keberadaan, akan terus ada hukum yang mengawasi setiap delik irreversibilitas unifikasi form dan matter. Persis hikayat kanonik yang menolak chaositas semesta, pikiran kita disemayamkan dalam ketenangan matematis yang menghubungkan dua dunia. Tatanan tanpa kerusakan, kecuali sebagai anugerah kemustian gerak.

Menjaring Plotinus, dan mereka yang mewarisi hikayatnya; (para filosof muslim yang kini generasi penerusnya disibukkan oleh jejalan upaya mengembangkan ide bagaimana mensejajarkan identitas mereka dengan menshalatkan ‘barat’ daripada mengenali ulang rupa ‘Tuhan’ dan kiblat mereka yang sedikit usang dihadapan hantaman arus informasi quantum), kita direhatkan dalam tetirah emanasi. Ada hierarki yang menyusun rentetan ‘Ada’. Tak perlu ditanyakan adakah keadilan bagi mereka yang sedari awal hanya mendapat jatah sedikit cahaya, sebab selalu tersisa ruang untuk berbenah. Melegamkan dosa, mengangkat jiwa, lalu meraih cinta-Nya. Di sana pula kita dijejali asumsi yang telah tertanam secara sporadis-kultural tentang harga ontologis ‘ada’ kita, sebagai mikrokosmis yang berbeda sebab pikir dan dzikir. Itupun selewat bertahun kita diajarkan perihal latar diskursus teologi mereka yang saling hantam.

Pernah juga perhelatan tarung argumen antara Averroes dan Ghazali mengasingkan benak dari telunjuk yang bisa kita arahkan bagi keraguan. Siapakah yang melenceng? Tak jadi soal setelah kita berhenti di regukan bahwa yang melenceng adalah yang tak lagi merenung. Mungkin itu tatkala Shadra dan Iqbal membuat kita menyadari arti lain sebuah gerak. Mengingatkan kita tentang makna substansial ‘proses’ yang menelikung kategori logis Aristotelian. Dan menempatkan akal kita dalam pembacaan ontologis yang sedikit lebih bergairah. Sebab di situ kita mendapati sedikit bisikan yang merombak paham teologis kita.

Dengannya hasrat pun kembali meletup. Menari dalam kerinduan yang entah pada pelajaran tentang ‘filsafat proses’ Whitehead dan ‘renungan durasi’ Bergson. Manusia, mikro-ontis adalah gumpalan pemadatan peristiwa yang disusupi objek-objek abadi melalui prehensi. Ia bukan sebatas substansi diam tanpa perubahan, melainkan sebuah satuan aktualitas dan masih merahimkan aneka potensialitas. Ia menangkap segala jenis informasi yang dibutuhkan untuk keberlangsungan ‘satisfaksinya’. Mungkin didalamnya ada proses inklusi dan eksklusi yang sedikit naif, namun mampu melegakan percaya kita bahwa tetap ada sisi otonom dalam kesadaran seorang insan. “kita” tidak hanya sekadar tumpukan ‘sampah’ ideologi yang beronani dengan fantasi tentang revolusi. Dari keduanya pula kita mengenal suara lain yang mengabarkan bahwa setiap entitas (manusia, alam bahkan Tuhan) berada pada lintang yang sebujur. Meski sepintas hal itu kita temukan pula kemudian hari di sistematika hierarki holon (holarki) yang disusun oleh Ken Wilber, setidaknya jenis pemikiran ini telah memberikan kesan yang mendalam tentang makna lain realitas.

Lalu, kita pun sempat menyeberang ke tepian paradigma sainifik. Menjerat simpul-simpul kompleksitas konklusi dari fisika quantum, biologi molekular, bahkan neurosains. Ringkasan imajinatif tentang big bang adalah hal pertama yang kita serap perihal ontologi awal semesta. Titik singularitas tanpa hukum, kategori, tujuan bahkan bahasa penjelasan, yang meledak (dan konon) membawa benih-benih dasar informasi kejeniusan sang perancang. Ambang penyelidikan yang menjadi titik nol bagi pemahaman para ilmuwan. Uniknya, di ranah ini tidak kutemukan Tuhan sebagai creator integral penjelasan teori itu, kecuali gumaman kusut bahwa hal itu di luar grammatologi ilmiah. Meski kemudian tak sedikit keriuhan yang menyuarakan kekaguman sekaligus keheranan atas proto-fenomena itu, perihal misalnya adakah penjelasan bagi keterbentukan hidup yang jenius dari sistematika kejadian yang selalu dianggap kesunyataan itu, atau barangkali bagaimana matriks evolusi setelah peristiwa itu yang mengarah meraih kedetailan spiritual, entah mengapa ranah ini masih enggan beringsut dari sebagian paham tentang ketakperlu-adaan sang ‘Mana’. Kita pun berulangkali tertegun mendengar sabda kaum ‘orc’, penjaga materialitas laboratorium ini, bahwa yang diperlukan dalam sains hanyalah hukum dan kebetulan (law and chance, un-teleologic cause and effect). Dalam evolusi yang dibutuhkan hanya swa-order (pengaturan diri, self-order), ke-boleh-jadian (necessity of chance), dan seleksi natural (natural selection). Semesta secara ontologis berdiri di atas rangkaian acak evolusi yang mengandung berbagai kemungkinan. Toh’ ada tatanan hukum yang membatasi. Sekalipun ada pengalaman yang lebih mengisyaratkan byte-byte altruisme daripada ‘The survival of the fittest’, ia hanya dianggap sebagai bagian kecil pergolakan evolusi yang dapat dijelaskan berdasarkan kontribusinya terhadap daya hidup dan suaka genetikal.

Hari ini . . .

Kita masih bersandar pada dinding kontribusi kalam yang sedikit lapuk. Dan kecemburuan pada mereka yang terekam dalam sejarah belum berakhir. Pencerahan, aukflarung, sudah lama berlalu. Perhelatan zaman yang desas-desus usainya belum juga mereda kini terdengar juntrungnya telah tersesat di sebuah kota. Entah di mana. Postmodernisme yang sayu, religiusitas yang berdebu, namun lirih bisiknya tetap mengganggu:

benak retak pecah
jenazah century terbujur gulana
detik-detik yang mengabarkan umur dunia
keranda neksus, peradaban yang terluka
tidak lagi mengerti kemana perginya masa

segala bersua, berdesakan bak elegi Himura
diri, batu, ranting, dan neraka
padamu, desing Phoenik yang membawa sunyata
tiupkan angin Timur pada kami yang lalai
tak perlu bincang ini digelar
atau sekadar percaya bahwa tak ada yang berbeda
kita hanya disisakan ruang sempit untuk percaya;
siapapun boleh bersuara.!

Belumlah pernah kita layaknya Descartes, membuang segala iman dan menyuguhkan seonggok keraguan metodisnya pada semua hal. Tidak juga kita membentuk diri seperti halnya Ghazali yang begitu kukuh dengan kepercayaannya hingga ia tak akan mengubah ia, meski ada fakta ganjil yang berlangsung di depan matanya. Bahkan sebagian kita tak pula sempat mengarungi semedi moksa, menenggelamkan diri dalam ritus furgatorio, dibakar oleh api hidayah seperti halnya para filosof yang terdahulu itu.

Kita hanya ingin mengartikan hidup, walau tidak mampu ‘membunuh’ Tuhan. Kita hanya ingin menerjemahkan ada kita, meski iman kita tak sanggup melompati kenyataan. Kita hanya berharap percaya bahwa realitas sungguh ada. Bukan sekadar bahasa, noumena, apalagi kuasa. Bahwa manusia tidak lagi sebatas komoditas ekonomi dan kerja, atau ode keterlemparan yang musti dicela.

Hari ini, untuk mereka yang tinggal lembaran dan jejak-jejak kata, kita tetapkan sebaris do’a. Malam boleh menghilang, kenangan biarkan ia melepuh, namun semangat ini akan terus tertempa. Tidak peduli bagaimana mata yang lain menyapa-cela, tidak juga kita peduli pada lidah yang lain menatap-hina. kita hanya menyalin entah pada lembaran hidup yang selewat-tiba. Dan kita berdiri di sana. Menyanjung kesendirian sebagai batas raihan jiwa. Sebab kita tersesat di antara kelopak senja riuh orang-orang atas perihal dunia. Namun sembari menampik puja. Sebab kita tergelincir di tengah duka mereka yang terkuras air matanya. Namun sembari melipat daya.

Kita Tidak Peduli.!!

Oleh kesementaraan kita mampu menghitung renung. Mencoba mendangkalkan makna pada apa yang asing. Pada apa yang sering menghardik kealpaan diri mengingat ia. Sejengkal tempaan, sejuta harapan. Dan itulah hidup. Mungkin nyinyir, saat segala asa terus tertunda, tapi di noktah itu, yang kita sadari adalah ia tetap sebuah anugerah untuk mendewasakan, mengasah kesederhanaan. Adalah pada telunjuk angin yang menyisir lembah, dedaun yang menampung sejuk embun, rembulan yang menyebrangi lautan bintang, kita merapatkan kegilaan ini. Meski terkadang merindu pada tanah di mana sempat kita titipkan bahagia. Meski terkadang meratap di tepian hasrat yang terus tertolak.

Kita selundupkan kecemasan pada jeratan keangkuhan akan dunia yang kita tidak pahami dimanakah batas. Karena bagi kita ia adalah ruakan cahaya dalam hamparan gulita ketidakjelasan menjadi manusia. Menjelma ada. Saat semuanya hanya bisa menerjemahkan arus, merunduk takluk pada hasrat sewaktu. Karena bagi kita ia adalah luruhan senyap, agar ribut petala kan usai menerpa. Remuk, luluh, redam, dan filsafat kita pun diam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: