Nemuriuta Flan

Ambang Sunyi Hermeneutik

Posted on: July 21, 2009

Prolog. . .

Perenungan atas kompleksitas para-semesta belum jua berakhir. Upaya manusia dalam memaknai dan menelikung kepelikan tersebut sampai sekarang pun urung menyua ujung. Alih-alih menguasai, memahami, untuk menemukan secercah kepastian tentang realitas, manusia hanya harus bercanda dengan temporalitas putusan. Sesaat jawaban. Namun, toh’ ia tak pernah puas. Sebagai manifestasi kosmos yang dianugerahi kemampuan untuk merelung dan menilik, manusia rupanya harus hidup, berjalan dalam aras takdir mitis kejatuhan Adam oleh buah pengetahuan. Hasrat untuk melahap nikmatnya hafalan akan ‘nama-nama’ mengusai pada kegamangan. Ia hanya mampu meleburkan “baham” telah merangkum semua dalam ungkapan: “tebas dulu lehernya, baru beri dia kesempatan untuk berbangga”.

Sejarah pengetahuan, nalar, filsafat, sains bahkan agama adalah tamsil retak atas kebuntungan tersebut. Bagaimana kedigjayaan pikir bisa merengkuh keangkuhan, yang dulu sempat terenyak dalam kebodohan. Nafas peradaban, kentut teknologi, peluh kuantum, hingga airmata kemajuan merupakan isyarat jauh akan lebatnya semangat manusia mengartikan hadirnya. Akan tetapi, lagi-lagi semua itu hanya sekejap. Sekilas pandang yang kembali mererehkan benak kita dalam kesunyian. Segalanya gagu. Apa yang dulu terpahat di atas terangnya rumusan, tiba-tiba berbalik dalam kenyataan. Pelbagai penyakit pun datang; nihilisme, sophisme, ambiguitas, yang dengan senyap melunturkan kepercayaan. Manusia: hidup memang hanya mesti percaya, hanya entah pada ayat yang mana.

Inilah senjakala rasionalitas manusia. Sejak para dewa dihancurkan dalam kurusetra akal dan iman, dan manusia menobatkan keberadaannya sebagai satu-satunya pelita, kini segalanya melapuk. Statistika menuai bencana. Kuadrat mekanika dalam limbungnya ekologi realita. Adalah suatu kebahagiaan bagi mereka yang kemudian bisa mengingat apa-apa yang terlupa. Sebab, harapan dan kemungkinan seringkali bersembunyi di sana.

Kesunyian Hermes

Berkelindannya kegagalan dan kegagahan dalam keras-lunak tarikan persediaan kemungkinan untuk memahami itu tidak hanya dihuni oleh manusia. Ketika ia pecah dalam kebingungan, dia yang berada di langit pun ‘terkesiap’, tak ingin menyaksikan kejatuhan kedua kalinya. Lalu, rahasia uraian dibuat, dan Hermes sebagai kuanta penjelasan sabda langit berangkat menuju takdirnya. Ia, dengan gigih mencoba merasuki waham manusia dan menyentil kedalaman renung agar arah bacaan tidak melenceng, apalagi berbalik jalan. Begitulah, geneaologi ‘kebenaran’ menyeruak di antara kelamnya penafsiran.

Namun, kegigihan, lindapnya keterangan, jelasnya pesan yang mengiringi Hermes terkadang dibarengi justru oleh bahasa yang ‘melalaikan’. Manusia; hasrat dan kegamangan, seringkali rapuh untuk menerjemahkan. Luhurnya firman jauh berbanding dengan kemampuan pencerapan. Jangankan untuk dimaknai, dalam mengucapkan kembali semua kesampaian tersebut pun, manusia butuh dimensi ekstra kesabaran dan pembelajaran. Ruang, waktu, kanvas hamparan eksistensi manusia terlampau menjerat kesucian dalam kubang kotor hasrat bumi. Padahal agar firman terdedahi, manusia semestinya butuh kejernihan benak dan hati.

Apalah daya, sang Hermes harus menyandarkan ‘titah’ dalam ketidakjelasan ‘entah’. Manusia; di yakin Hermes, sebenarnya bukanlah sebongkah ketololan, hanya saja ia kadang terlalu angkuh menerima pemberian. Terlalu miskin untuk melihat kekayaan. Dan ia, pada akhirnya terdiam. Mengukur lorong-lorong sunyi yang hanya sejengkal dari intuisi manusia. Hermes; raut kegelisahan do’a orang-orang setiap usai peristiwa.

Riuhnya Hermeneutik

Berakhirkah hikayat tersebut? Tidak. Oleh sisa-sisa kepercayaan pada akal dan warisan semangat tualang atas semesta, manusia terus melaju meski tanpa dewa. Logos ditetapkan, bahasa dimapankan, interpretasi diluaskan dan segala anasir yang menyokongnya untuk memperoleh makna (meluruhkan cara ber-ada) pun dituliskan. Berabad kemudian menjelmalah literatur, peristiwa, fenomena, dan pelbagai tanda yang tidak hanya menjejali benak kita lewat selubung tafsir dan rumusan masa lampau (para pendahulu), namun juga dengan ‘langue’, world view, dan kata-kata yang melarang kita untuk mengindahkan beda.

Inilah hermeneutik. Lukisan upaya manusia memahami apa yang bisa terbaca (teks). Di antara riuhnya makna dan keragaman tanda, hermeneutika menggiring manusia melabuhi samudera pencarian akan pulau pemahaman. Sebuah samudera yang dihiasi terjal karang historiografi sang pengarang, besarnya gelombang tuntutan akan kejelasan konteks, dan sempit-luasnya batas cakrawala Ia, karang dan samudera (teks).

Untungnya, manusia bukanlah tanpa bekal dalam upaya pelayaran tersebut. Ia berangkat dengan segudang anggapan, pengalaman, simbol, bahasa dan horison fikir yang menjauhkannya dari kekosongan. Bahkan adakalanya menjerumuskan dirinya dalam satu kriteria yang melarang lain putusan. Ia adalah sejenis tualang yang menyapa setiap kota dan pulau literatur dengan salam yang sarat akan hasrat penguasaan dan horison pemahaman. Pelayatannya juga adalah ziarah kerinduan akan batas dimana ia bisa memahat keberadaannya. Ini belum ditambah intensionalitas kesadaran yang mengungkung keterlepasan pandangan. Sangat riskan . . .

Lantas bagaimana dengan samudera teks yang dilabuhinya? Tenangkah ia? Jawabnya juga tidak. Samudera tersebut penuh ketidaksederhanaan aral tanda-tanda, interpretasi, horison sang pencipta, dan konteks (ke-masa-an) bahasa (yang memuat juga wawasan, tradisi, budaya, kultur, norma sosial, kuasa, pola tindak dan fikir dll). Yang secara pasti memaksa manusia mengalihkan acuhnya dan senantiasa ricuh dalam kecermatan untuk membabatnya. Tentu dalam beranda upaya untuk menepiskan keragaman beda, melilitkan ambang ber-ada, dan meraih makna. Ia, dalam kemasan kala, adalah samudera yang berhasil mewujudkan cakrawalanya sendiri. Dan gemilang merehatkan sang pengarang dalam teras panggilan yang jauh. Bahkan, secara ironis-periodik percumbuannya dengan manusia (sang pembaca) menyebabkan sang pengarang harus terbujur kaku dalam lilipan kafan kematian. Kematian tanpa perayaan. Sunyi . . .

Namun, sebuah proses pelayaran, percumbuan antara manusia yang ingin mereguk lezatnya makna dan samudera teks yang kadang selalu mengelak untuk menyampaikan manusia pada asanya, bukanlah sesuatu yang gampang digambarkan. Manusia (sang pembaca) bukan saja mesti melakukan prosa perceraian dengan realitas teks (distansiasi), menyisakan dasar-dasar pegangan hasil pemilahan pelbagai simbol, ia juga wajib menahan jengahnya untuk dapat menoleh pada kemungkinan terjadinya peleburan antara ia, teks, bahkan dalam sedikit hal dengan horison sang pengarang (kunjungi nisannya, kalau perlu gali kuburannya dan kenali setiap irisan daging dan tulang yang tersisa. Jangan lupa singkirkan belatung, cacing dan kotoran lainnya, serta indahkan aroma busuk yang menyengat ingin kita). Begitulah adanya, konon, merujuk pada keterangan orang-orang terdahulu, ia juga diperumit dengan spesifika tafsir yang segala tahapannya ‘kudu’ runut, selain melalap ‘kebebasan’ atas nama sistematika kebenaran.

Rentan . . .

Apa yang terhikayatkan bukanlah akhir. Sebab, meskipun setelah sukses menjajaki pelayaran dan menemukan pulau idaman, manusia kemudian dalam perjalanan pulangnya, mau tidak mau kembali bertatapan dengan persoalan yang tidak sedikit. Temporalitas tafsir, rapuhnya makna, dan pertanggungjawaban atas kebebasan untuk mengimani jawaban.

Persoalan-persoalan itu entah mengapa, tak pernah lelah mengawini keseluruhan perjalanan hermeneutik. Tafsir datang, mapan, bimbang dan menghilang. Ia, sebagai sebentuk metodologi bagi ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan dan kebenaran yang dihasilkannya, sejak dulu juga selalu berada dalam kesetaraan yang ‘tak jelas’ dengan saudaranya yang lain (ilmu-ilmu alam). Adakah hal itu dikarenakan hermeneutik adalah puisi pemahaman (verstehen), dan positivisme-ilmiah adalah penjelasan (erklaren). Di mana yang satu bermain dalam wilayah mewujubjan kedalaman, sementara yang lain bersenandung dalam wilayah yang memastikan garis sempit pembatas nyanyian? Atau jangan-jangan hal tersebut lahir akibat angkuh anggapan manusia sendiri? Kita tak pernah tahu . .

Sejatinya, proses penafsiran mengandaikan kesungguhan dan kesediaan untuk mengalah. Sebab, sekali menyisipkan pada hasil tafsiran (hermeneutik) pongahnya suatu kebenaran, maka pada noktah itulah sebuah tafsiran telah memaklumatkan kematiannya (untuk proses hermeneutik seperti ini, kita bisa menyebutnya ‘hermenazi’).

Telas sapa: ‘solilokui’ ini, dalam kerancuannya hanya ingin menegaskan bahwa suatu upaya penafsiran adalah keriuhan yang selalu berujung pada kesunyian, kejelasan yang berakhir pada ketidakjelasan (dalam ketidakjelasan, konon kita lebih memerlukan kesendirian, ‘solitude’). Ia juga merupakan sebongkah upaya yang membenamkan pelakunya dalam keyakinan: kelak ia kan retak, dan apa yang tertinggal hanyalah apa yang kita sematkan padanya memori benak.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: