Nemuriuta Flan

Alfred North Whitehead dalam Telaah

Posted on: July 21, 2009

Filsafat proses dicetuskan pertama kali oleh Alfred North Whitehead walaupun benih pemikirannya sendiri bisa dilacak pada masa Yunani kuno saat zaman keemasan mula filsafat berawal. Tulisan ini mencoba menelaah beberapa poin pemikiran Whitehead secara singkat.

Metafisika Proses Whitehead

Ada beberapa konsep dan istilah sentral yang sering mengemuka dalam pembahasan tentang filsafat proses Whitehead, yakni; proses (process), entitas aktual (actual entity), prehensi (prehention), prinsip kreativitas (creativity), objek-objek abadi (eternal objects), dan Tuhan (God). Point-point tersebut pada dasarnya saling terkait, tak terpisah dalam membentuk sistem filsafat Whitehead secara utuh.

Whitehead (1861 – 1947), pada dasarnya lebih menggunakan istilah “kosmologi” daripada “metafisika” untuk menyebut rancang pandang dunia buat sistem filsafatnya. Metafisika atau filsafat spekulatif ini dirumuskannya sebagai; “the endeavour to frame a coherent, logical, necessary system of general ideas in terms of which every element of our experience can be intrepreted.” (usaha untuk merumuskan suatu sistem gagasan-gagasan umum yang logis dan koheren, dimana setiap unsur pengalaman dengannya dapat dijelaskan (Process and Reality, Canada, 1979).

Beberapa pengertian definitif atas term-term di atas, adalah; a) proses (process), adalah keterus-menerusan gerak menjadi yang melandasi seluruh realitas; b) entitas aktual (actual entity), adalah kenyataan dasar penyusun realitas yang terdiri dari suatu peristiwa pengalaman ‘menjadi’. Istilah entitas aktual ini sendiri sangat sulit untuk dirujukkan pada hal-hal yang definitif dalam perbedaannya dengan nexus. Yang jelas, tiap entitas aktual tidak dapat dibagi lagi kedalam satuan yang lebih kecil. Allois A. Nugroho, dalam terjemahan dan komentarnya atas buku Whitehead, “Function of Reason” (Yogyakarta, 2002) menyebut bahwa yang dinamakan entitas aktual tersebut adalah manusia, binatang, sel, partikel-partikel atom dan bahkan Tuhan; c) prehensi (prehension), adalah proses pencerapan atas data-data yang disediakan baik oleh lingkungan, pengalaman maupun dari relasi suatu entitas aktual dengan yang lain.

Prehensi ini, yang disebut juga oleh Whitehead sebagai “feeling”, pada dasarnya terbagi dalam dua jenis, yakni; prehensi positif atau proses inklusi data-data yang akan mengambil bagian dalam proses pembentukan diri, dan prehensi negatif sebagai proses eksklusi data-data tersebut. Data-data yang diproses tersebut juga hakikatnya diambil dari dua jenis sumber, yaitu; sumber data-data berupa entitas-entitas yang sudah terwujud terlebih dahulu (antecedent actual entities) dan prehensinya disebut juga prehensi fisik yang membentuk kutub fisik, dan sumber data berupa objek-objek abadi (eternal objects) yang prehensinya disebut prehensi konseptual yang menyusun kutub mental. Sebuah prehensi fisik juga tidak hanya mencerap entitas-entitas aktual yang sudah terwujud sebelumnya, melainkan juga mencerap bentuk ketertentuan yang sudah diseleksi (selected forms of definiteness).

Prehensi menunjukkan bahwa sebuah entitas aktual memainkan peranan aktif dalam proses pembentukan dirinya secara aktif dan selektif. Seleksi itu berlangsung atas dasar dua kriteria, yakni; forma subjektif (subjective form) dan tujuan subjektif (subjective aim). Dua hal ini disebabkan juga oleh proses pencerapan suatu subjek lewat afeksi; d) kreatifitas (creativity), adalah prinsip dasar yang memungkinkan proses dalam flsafat Whitehead bisa berjalan. Dalam kata lain, ia adalah prinsip yang mendasari terjadinya proses konkresi yang melahirkan satu entitas aktual baru dari banyak entitas aktual lain yang sudah komplit atau mencapai kepenuhan (satisfaction); e) objek-objek abadi (eternal objects), adalah potensialitas-potensialitas murni yang akan menjadi prinsip pembentuk atau memberi wujud tertentu bagi suatu entitas aktual. Potensialitas tersebut pada dasarnya merupakan “objek” karena ia bersifat pasif. Ia menjadi bahan yang darinya suatu subjek (entitas aktual) mewujudkan dirinya. Dan ia bersifat abadi karena keberadaannya tidak terbatas pada perwujudannya dalam entitas-entitas aktual yang tentatif (spasio-temporal); f) Tuhan (God), adalah perwujudan asali pertama dan yang bersifat non-temporal dari prinsip dasariyah “kreatifitas”. (dalam ungkapan Whitehead; “In the philosophy of organism this ultimate is termed ‘creativity’; and God is its primordial, non-temporal accident.” Tuhan juga merupakan prinsip dasar konkresi atau proses munculnya satu entitas aktual dari banyak entitas aktual lain yang menjadi data warisan masa lalu.

Semua term terurai tersebut haruslah dipandang dalam kerangka menyeluruh sebagai dasar koherensi filsafat organisme (filsafat proses) yang disusun oleh Whitehead. Metafisika Whitehead ini sejatinya juga adalah pembalikan secara radikal metafisika Aristotelian yang waktu itu sangat dominan, bahkan terus dipertahankan sebagai pandangan dunia pada masyarakat modern. Hal ini bisa dipahami dari point bahwa Metafisika Aristoteles menjadikan gerak hanya sebagai kategori sekunder yang melekat pada suatu substansi tertentu, sedangkan Whitehead meletakkan hal tersebut sebagai dasar bagi seluruh realitas. Alih-alih menjadi substansi baru, Whitehead sebaliknya meruntuhkan konsep substansialitas dalam pemikiran filsafat. Karakter dasar dari seluruh realitas bagi Whitehead adalah gerak. Setiap satuan aktual merupakan kumpulan keterjalinan event atau peritiwa. Peristiwa di sini maksudnya adalah kumpulan tarik-ulur pengalaman yang didapat melalui “prehensi”. Baik manusia, alam, maupun Tuhan kesemuanya merupakan satu jalinan proses aktualitas yang tak pernah berhenti, terangkai dalam proses “repetisi” dan “apetisi” yang berkesinambungan. Sebuah aktualitas lanjut Whitehead adalah perumusan dirinya yang menyerap “objek-objek abadi” (eternal objects) diringi dengan prinsip kreatif yang sudah menempel padanya secara inheren.

Pandangan Whitehead berawal dari ketertarikannya pada konsep dunia idea Plato. Sebab baginya idealisme Plato jauh lebih bisa menyediakan perluasan gagasan filosofis nan segar, daripada hylomorphisme Aristotelian yang lebih mengutamakan materialitas dari konsep tentang ide-ide tersebut. Konsepsi Plato ini kemudian diturunkan dan diuraikan secara lebih luas oleh Whitehead dalam pandangannya tentang fungsi rasio. Ia membagi rasio menjadi dua yakni; rasio pragmatis (praktis) dan rasio metodis (konseptual). Pada titik ini Whitehead kemudian menambahkan bahwa seluruh bentuk kehidupan selalu berdasar pada dua jenis rasio ini. Rasio pragmatis (disebut juga dengan “rasio Ulyses”) berhubungan dengan kesadaran yang berusaha menjawab hal-hal praktis dalam hidup. Namun jenis rasio ini bagi Whitehead adalah rasio tanpa kemajuan, sebab pada akhirnya ia hanya terjebak pada pengulangan (repetisi) hal-hal tertentu tanpa upaya pengembangan dan perluasan hal tersebut pada bentuknya yang baru (apetisi). Oleh karena itu, ia membutuhkan juga rasio metodis atau rasio konseptual dalam hal merenungkan secara mendalam realitas yang ada hingga bisa ditarik pelbagai gagasan dan bentuk baru dari realitas tersebut. Dan jenis rasio ini hanya bisa didapat dari konsepsi Plato tentang dunia ide.

Istilah ‘repetisi’ dan ‘apetisi’ sendiri adalah dua istilah yang berhubungan langsung dengan pengembangan bahasan Whitehead tentang fungsi rasio. Menurut Whitehead ada 3 jenis jalan kehidupan sehubungan dengan fungsi rsio ini, yakni; Jalan Kebutaan (The Way of Blindness), Jalan Kesementaraan (The Way of Transience), dan Jalan Irama (The Way of Rythm). Pada jalan yang pertama adalah tahap dimana rasio harus mengalami keletihan dan terjebak dalam hal-hal yang bersifat praktis. Jalan kedua berarti tahap dimana rasio terjerumus dalam kesilapan ataupun kekaguman atas masa lampau, hingga terjebak pada pengulangan hal-hal dan metode yang sama dengan masa lampau. Sementara jalan terakhir adalah jalan dimana rasio menemukan kebangkitannya dengan berusaha menemukan hal-hal baru dalam hidup. Pada dua jalan yang pertama inilah rasio pragmatis memainkan perannya, dan pada jalan terakhir rasio metodis-lah yang menonjol. Menggunakan jenis rasio yang pragmatis saja dalam kehidupan menurut Whitehead hanya akan menyebabkan kita terjebak dalam kejumudan dan pengulangan (repetisi) tanpa perkembangan dan kemajuan, sehingga ia juga harus menggunakan rasio metodis untuk menemukan bentuk dan hal baru dalam melanjutkan kehidupannya. Proses mencerap bentuk-bentuk baru inilah yang kemudian disebut oleh Whitehead sebagai “apetisi”.

Metafisika proses ini dalam perluasannya, adalah sebuah rumusan yang berusaha memandang realitas sebagai organisme yang saling terkait. Darinya filsafat yang dikembangkannya disebut juga sebagai “Filsafat Organisme”. Organisme itu bagi Whitehead sendiri dimaksudkan bahwa seluruh realitas (dunia, manusia, juga Tuhan) bersifat dinamis, selalu berubah dan mengandung unsur baru. Sebagai keseluruhan ia terdiri atas bagian-bagian yang membentuknya, namun bagian-bagian tersebut bersifat unik, swa-bentuk-relasional, saling mempengaruhi satu sama lain dan mempunyai cita-cita diri (subjective aim) yang bersumber pada Tuhan dalam aspeknya yang paling primordial.  Di sisi lain, sebagai bagian ia juga ikut meresap dalam dinamika keseluruhan yang mempengaruhinya. Hanya saja, point penting dari itu semua adalah Whitehead ingin menegaskan bahwa kita tidak bisa memahami keseluruhan hanya dari bagian, sebagaimana kita tidak akan dapat mengerti bagian dari keseluruhan. Sebab keduanya selalu berada dalam dinamika yang saling mempengaruhi dan saling meresapi. Seluruh satuan aktual yang ada mencipta dirinya dalam keterjalinannya dengan yang lain, karena hakikatnya sendiri berada dalam proses menjadi itu (process of becoming).

Penekanan Whitehead yang lain adalah pada proses mengalirnya waktu sebagai proses mengalirnya gumpalan-gumpalan peristiwa. Jalannya waktu tidak bersifat silis melainkan linier. Bagi satuan aktual yang mencipta dirinya dalam waktu tersebut selalu ada titik jeda dimana ada pemuncakan gelombang pengalaman. Darinya proses bagi Whitehead bersifat ephocal. Dan Whitehead secara lebih tegas menyebut arti “proses” yang digunakannya bukan dalam kerangka istilah yang menyiratkan suatu continuity of becoming, melainkan suatu becoming of continuity. Tegas whitehead:

“Finally, the extensive continuity of the physical universe has usually been construed to mean that there is a continuity of becaoming. But if we admit that ‘something becomes,’ it is easy, by employing Zeno’s method, to prove that there can be no continuity of becoming. There is a becoming of continuity, but no continuity of becoming. …”

Meskipun Whitehead selalu menekankan aspek perubahan dalam filsafatnya, namun ia juga menyatakan bahwa satuan-satuan aktual yang berproses dan menciptakan sebuah jaringan realitas organis, pada mereka tetap ada aspek “permanensi” sebagai pola-pola tetap (enduring patterns) yang menjadi identitas mereka. Hanya saja kategori gerak dan perubahan jauh lebih mendasar dari aspek permanen pada satuan aktual tersebut. Konsep satuan aktual yang meliputi hampir seluruh kategori makhluk tersebut menjadikan Whitehead dikenal sebagai tokoh yang mengusung gagasan “pan-subjectivity”.Gagasan ini (Pan-subjectivity) adalah paham bahwa seluruh realitas haruslah dilihat sebagai subjek yang utuh, yang berlaku tidak hanya untuk manusia, tetapi juga benda-benda mati, tumbuhan, binatang bahkan Tuhan. Pandangan seperti ini jelas bekaitan erat dengan pandangan ontologis Whitehead tentang alam semesta sebagai jaringan entitas-entitas aktual yang saling berproses dan mempengaruhi satu sama lainnya. Meskipun begitu, istilah pan-subjectivity sendiri bukan berasal dari Whitehead, namun dari Lewis S. Ford yang mengkarakterisasi pemikiran Whitehead. Selain pan-subjectivity, Lewis juga menyebutnya sebagai “temporal-atomism” dan “theism”.

Epistemologi Proses Whitehead

Epistemologi atau disiplin yang mencoba menganalisa bagaimana proses manusia bisa memperoleh pengetahuan dan sampai pada kebenaran pada dasarnya dibagi dalam dua term klasik, yakni; realisme dan idealisme. Realisme biasanya dikaitkan dengan pokok ajaran Aristoteles tentang kesesuaian pengamatan dengan kenyataan yang diteliti di luar kita. Aliran ini sangat menekankan aspek empiris dan korespondensi pengamatan subjek dengan objek. Jadi, menurut aliran ini kategori kebenaran terletak di luar, atau berada pada objek yang diteliti, sedang subjek hanyalah hanyalah sang pewarta jujur dari apa yang berada di objek tersebut. Hal ini tentu berbeda paham dengan versi yang satu lagi, yakni; idealisme. Aliran yang sejatinya berasal dari filsafat yang dibangun oleh Plato ini, sangat menekankan pentingnya keberadaan subjek. Sebab, bagi aliran ini objek bukanlah sesuatu yang independen berada di luar subjek. Ia tidak bermakna apapun sebelum adanya subjek yang memberinya pelbagai kategori makna hingga terwujud konsepsi dan pengetahuan tentang objek tersebut. Perbedaan dua jenis epistemologi ini kemudian berkembang dalam beragam versi perluasan dan penyempitan yang menghiasi alternatif pandangan epistemologis dunia modern. Pada titik ini epistemologi yang berkiblat pada filsafat proses kemudian mendapatkan momennya.

Whitehead mengembangkan juga dalam pemikirannya suatu teori yang disebutnya sebagai “teori prehensi” (theory of prehensions). Prehensi sendiri dimaksudkan oleh Whitehead sebagai proses pencerapan dan pengolahan sekaligus pengeluaran yang melekat pada setiap satuan aktual dalam keterhubungannya dengan realitas keseluruhan. Ada appropriasi timbal-balik yang terjadi antara masing-masing satuan aktual dengan lingkungannya, dalam upaya pembentukan diri yang tidak melulu kognitif. Whitehead kemudian dalam hal ini membedakan prehensi menjadi dua, yakni; prehensi positif dan prehensi negatif. Yang pertama, adalah proses inklusi unsur-unsur yang dicerap ke dalam diri dan diolah dalam upaya pembentukan diri; sedang yang kedua, adalah proses eksklusi unsur-unsur yang tidak berguna dalam diri. Keduanya terjadi berdasarkan relevansi unsur-unsur tersebut dengan diri. Prehensi sendiri selalu melibatkan lima faktor, yakni; a) subjek yang merasakan (the ‘subject’ which feels); b) data awal yang dirasakan (the ‘initial data’which are to be felt); c) eliminasi unsur-unsur yang dieksklusikan dalam prehensi negatif (the ‘elimination’ in virtue of negative prehensions); d) data objektif yang dirasakan (the ‘objective datum’ which is felt); dan e) forma subjektif atau cara bagaimana subjek merasakan data objektif (the ‘subjective form’ which is how that subject feels that objective datum).

Lewat prehensi ini, Whitehead memaksudkan bahwa proses penangkapan objek tidaklah sekaku sebagaimana yang dipahami oleh kalangan pendukung realisme (atau kalangan empiris layaknya David Hume yang menganggap bahwa pengetahuan tak lebih dari impresi-impresi inderawi atas pengalaman subjek yang secara pasif menangkap objek lewat persepsi inderawi), juga tidak semena-mena subjek seperti anggapan kalangan pendukung idealisme seperti tersebut sebelumnya. Sebab, Whitehead dengan prehensi ini kemudian membagi persepsi menjani tiga jenis, yakni; a) presentational immediacy, atau penangkapan atas objek lewat indera secara langsung. Jenis persepsi ini lanjut Whitehead bukanlah persepsi yang paling mendasarkan, melainkan sudah merupakan suatu abstraksi; b) causal efficacy, atau jenis persepsi yang lebih mendasar, dimana objek menyatakan diri pada subjek secara kausal dan masih dalam keutuhannya yang belum terdiferensiasi atau dikenai kategorisasi secara jelas.. Persepsi ini terdapat pada semua jenis makhluk (benda mati, tumbuhan, binatang dan manusia); c) symbolic reference, atau jenis persepsi yang memadukan presentational immediacy dan causal efficacy, yakni persepsi yang melibatkan seluruh unsur pengalaman dan lokalitas simbolik, mulai dari sisi primitifnya hingga perluasannya pada unsur-unsur lain yang ikut membentuknya.

Apa yang diuraikan oleh Whitehead ini sebenarnya bisa mengatasi masalah epistemologis bagaimana suatu subjek bisa mengetahui sesuatu (objek). Subjek dalam pemikiran Whitehead bukanlah subjek yang tertutup, yang memastikan diri lewat kesadarannya sebagaimana pengertian Descartes, melainkan suatu aktualitas yang membentuk diri dari pengalaman dan warisan, cita-cita diri, dan pengaruh subjek-subjek lain diluar diri. Ia tidak pernah terlepas dari keterkaitannya dengan yang lain. Oleh sebab itu, ketersatuan subjek-objek dalam sebentuk hubungan yang dinamis ini, merupakan solusi untuk mengatasi dikotomi subjek-objek dalam epistemologi dunia modern. Semoga…

1 Response to "Alfred North Whitehead dalam Telaah"

Hi, ringkasan kamu tentang Whitehead, menarik. Saya print sebagai referensi, ya..🙂

‘makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: