Nemuriuta Flan

Apakah Filsafat Itu..?

Posted on: July 25, 2009

philosophy1Dari saya, kalian tidak akan belajar filsafat. Saya mengajar kalian berfilsafat. Bukan pemikiran-pemikiran untuk ditiru, akan tetapi bagaimana caranya berfikir sendiri” (Imanuel Kant)

Apakah Filsafat itu? Banyak ragam jawaban yang bisa diajukan untuk menjawab pertanyaan ini.

“…filsafat adalah tidak lebih dari suatu usaha untuk…menjawab pertanyaan-pertanyaan terakhir, tidak secara dangkal atau dogmatis seperti yang kita lakukan pada kehidupan sehari-hari atau bahkan dalam kebiasaan ilmu pengetahuan. Akan tetapi secara kritis, dalam arti: setelah segala sesuatunya diselidiki problem-problem apa yang dapat ditimbulkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang demikian itu dan setelah kita menjadi sadar dari segala kekaburan dan kebingungan, yang menjadi dasar bagi pengertian kita sehari-hari…” (Bertrand Russel)

“Filsafat adalah pencarian akan jawaban atas sejumlah pertanyaan yang sudah semenjak zaman Yunani dalam hal-hal pokok yang tetap sama saja. Pertanyaan-pertanyaan mengenai apa yang dapat kita ketahui dan bagaimana kita dapat mengetahuinya; hal-hal apa yang ada dan bagaimana hubungannya satu sama lain. Selanjutnya mempermasalahkan pendapat-pendapat yang telah diterima, mencari ukuran-ukuran dan menguji nilainya; apakah asumsi-asumsi dari pemikiran ini dan selanjutnya memeriksa apakah hal-hal itu berlaku. (Alfred Ayer)

“Filsafat adalah perang sabil terhadap pesona dengan apa bahasa mengikat pemikiran saya” (Wittgenstein)

Wah, jawaban-jawaban di atas begitu mewah dan dalam beberapa hal susah untuk dimengerti. Marilah kita mencoba mencari gambaran lain yang lebih renyah dari Van Peursen:

“Peristiwa-peristiwa dalam hidup keseharian sering kita tanggapi sebagai sesuatu yang serba biasa, yang tidak menimbulkan rasa heran atau kagum. Berulangkali telah kita lihat bagaimana bunga pohon jambu berguguran sebelum menghasilkan buahnya. Sampai pada suatu ketika sekuntum saja yang dengan perlahan-lahan melayang ke bawah menimbulkan semacam rasa heran dalam hati kita. Apa artinya gejala ini, apa maknanya pohon jambu sebelm berbuah menaburkan bunga-bunganya? Adakah semuanya ini terjadi dalam kerangka yang lebih luas [tidak hanya pada pohon jambu, namun juga pada manusia]…Dan terpaparlah refleksi menusawi, ia mulai termenung. Dengan bercermin pada peristiwa pada peristiwa biasa (bunga jambu berguguran) ia menemukan introspeksi atau mawas diri dan dalam bungan bunga gugur itu ia menemukan jejak perjalanan dirinya sendiri, ia seperti melihat perjalanan dirinya yang demikian tidak menentu. Termenung. Saat itulah, ia mulai menjadi seorang filsuf!”[1]

Peursen mengaitkan filsafat dengan rasa heran. Filsafat sebagai hasrat akan kebijaksanaan akan tumbuh dalam diri manusia ketika manusia dihinggapi oleh rasa kagum dan rasa heran. Rasa heranlah yang membuat manusia berbeda dengan binatang atau tumbuhan. Binatang secara umum menganggap dunia kehidupannya sebagai biasa-biasa saja, tetapi manusia seharusnya tidak. Rasa biasa hanya pada permulaannya saja, terutama ketika kehidupan sudah demikian mekanis. Maksudnya, ketika seluruh kegiatan kita dilakukan secara begitu saja: bangun pagi, shalat subuh, pergi ke kampus/kantor, siangnya pulang, istirahat, menonton TV, lalu tidur dan bangun esok harinya dengan cara sama. Namun selalu ada saat istimewa yang membuat kita terhenyak dan membuat kita keheranan, seperti gugurnya bunga jambu itu. Rasa heran muncul pada saat membayangkan gugur pohon jambu itu adalah saya, yang juga gugur beru1langkali tanpa menghasilkan buahnya. Saat itulah saya menanyakan makna dan sebab. Apakah saya tak lebih dari bunga jambu? Apakah saya rela terus mengalami keguguran sebelum menghasilkan buah? Rasa heran mematahkan belenggu rasa biasa sekaligus menyadarkan bahwa manusia harus lebih dari sekadar pohon jambu.

Hidup manusia tak boleh sekadar mengulangi kegiatan yang sama. Ada banyak kegiatan yang kita anggap biasa-biasa, membuat kita enggan mengubahnya. Kita terkurung di dalamnya yang akhirnya kita tak pernah menjadi apa-apa atau siapa-siapa. Kita menjadi tawanan dari kebiasaan kita. Situasi ini sangat menyedihkan, karena sebagai manusia kita tak sekadar menempati ruang kehidupan. Lebih dari itu, kita berkewajiban untuk berkarya, memberi warna pada dunia.

Bila kita mulai menyadari inti kemanusiaan sebagai pemberi warna kehidupan, kita akan mengambil jarak terhadap hal ihwal sehari-hari. Dengan memperhatikan secara seksama, kita mengamati tindakan-tindakan yang telah dianggap: biasa saja, sudah seharusnya begitu, dan begitulah yang sebenarnya.

Istilah filsafat berkaitan dengan rasa heran itu, Aristoteles menyatakan bahwa rasa heran merupakan nenek moyang (arkhe) dari “hasrat akan kebijaksanaan” (philosophia). Istilah filsafat dalam khazanah kesusasteraan Yunani lama juga berkaitan dengan kegiatan manusia yang “melihat segala sesuatu dengan perhatian dan minat”; atau “berpikir tentang segala sesuatu dan menyadarinya”.  Kemudian istilah ini berkembang bahwa manusia mulai bermenuh mengenai hal-hal biasa dan kemudian mengenai hal-hal yang lebih luhur lagi. Filsuf Heraclitos, orang yang pertama kali menggunakan istilah “filsuf” menyatakan bahwa Tuhanlah yang dapat disebut kebijaksanaan. Namun Plato menegaskan kebalikannya,

“Para dewa tidak dapat disebut sebagai filsuf, mereka sudah memiliki kebijaksanaan, segala kebijaksanaan; hanya manusialah yang mendambakan kebijaksanaan karena ia tidak pernah dapat meraih kebijaksanaan dengan sepenuhnya”.

Kembali lagi pada pertanyaan Apa itu Filsafat? Kembali dikutipkan Van Peursen:

“Saya kira bahwa filsafat atau lebih tepatnya berfilsafat, pertama-tama adalah penjelasan dari pandangan kita sendiri. Kedua adalah suatu ikhtiar untuk dapat melakukan komunikasi secara dalam dengan kenyataan. Yaitu suatu komunikasi yang sanggup merelatifkan pandangan-pandangan dasar kita mendasar atau pandangan kita sendiri, serentak menempatkan tanda tanya di belakangnya. Lewat berfilsafat kita berusaha untuk meneruskan komunikasi keseharian yang telah lama terputus oleh perasaan biasa saja. Berfilsafat adalah suatu komunikasi yang menghapuskan kesalahpahaman dan yang berusaha untuk menghilangkan hal-hal yang sudah semestinya, yang terlalu emosional. Dan ketiga, adalah integrasi dari pemikiran-pemikiran yang terlalu teoritis dan tindakan-tindakan yang lebih praktis  …filsafat mempunyai tugas menyumbang untuk menjelaskan sikap manusia yang menyeluruh, di antaranya sikap keagamaannya, etikanya, sosialnya dan semacam itu…Filsafat bukanlah hanya integrasi dan komunikasi, akan tetapi pembentangan asumsi-asumsi sendiri dan kesediaan untuk dikritik. Soalnya adalah memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mencantumkan tanda tanya di belakangnya…”

Mencantumkan tanda tanya di belakang segala hal-hal yang kita anggap sudah semestinya, yang terlalu emosional kita terima sebagai benar tak terbantahkan. Itulah Filsafat, lebih tepatnya berfilsafat.

***

“…saya dianggap seorang filsuf. Itu adalah semacam seorang udik yang cerdas, yang dengan mulut menganga dan mata terbelalak melihat barang-barang yang oleh orang-orang “bijaksana” dianggap sebagai sesuatu yang sudah semestinya; seorang udik yang selalu berperasaan bahwa fakta-fakta yang paling nyata dari kehidupan keseharian sebenarnya sangat aneh…”

Tulisan itu dikutip dari Alan Watts, filsuf Amerika, yang mengemukakan suatu mentalitas berpikir. Menjadi filsuf berarti tidak sok tahu, atau merelakan diri sebagai “selalu orang baru”. Tak ada yang biasa-biasa. Semua kejadian, benda-benda, orang-orang yang ditemui selalu khas, unik dan membawa kabar akan kearifan. Filsafat yang sering didefinisikan sebagai “cinta akan kearifan” menceritakan suatu kegiatan seorang kekasih yang mabuk cinta. Seperti dalam kisah Layla Majenun, Qays si penggila Layla pada puncak kangennya selalu curiga bahwa di segala tempat bahkan pada angin yang menghembus ada jejak dan pesan dari Layla. Qays menemukan Layla di mana-mana, demikianpun dengan filsuf: ia menganggap di segala hal ada kearifan dan tidak percaya bahwa semuanya berlangsung begitu saja.

Kenyataan keseharian bukan berlangsung begitu saja, namun memiliki pesan dan jejak dari kebenaran/kearifan yang kita kangeni. Rasa kangen dan hasrat untuk bertatap muka membuat kita selalu memperhatikan dengan perasaan heran dan kritis: mengapa benda-benda itu ada dan mengapa benda-benda itu demikian? Apakah tujuan, arti, maksud, serta nilai benda itu? Hasrat untuk menemui kebenaran membuat kita mau menghubungkan semua kenyataan yang kita temui.

Mengajukan pertanyaan itulah cara awal dari berfilsafat. Hanya saja pertanyaan yang diajukan, bukan interogasi macam penyidikan polisi atau pemeriksaan jaksa di pengadilan. Pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan orang udik atau pertanyaan kanak-kanak balita.

“Para filsuf seperti anak-anak di bawah usia lima tahun…”Di samping segala perbedaan di antara mereka, para filsuf memiliki suatu ciri khas yang sama, yang barangkali sekaligus dapat berfungsi sebagai kriteria yang menentukan untuk pertanyaan: apakah ia akan kita namakan seorang filsuf? Ciri khas itu berupa kebiasaan untuk terus bertanya: mengapa sesuatu itu demikian atau mengapa sesuatu itu dianggap saling bertentangan. Pokoknya pertanyaan sebagaimana ulahnya anak-anak…”[2]

Pertanyaan kanak-kanak, menurut Edward de Bono, bermula dari kata: mengapa? Kemudian berkembang menjadi mengapa tidak begini, mengapa tidak begitu. Lalu setelah dewasa berkembang menjadi perumusan kenyataan dalam bentuk jawaban oleh karena itu, suatu jawaban yang mewarnai kehidupan manusia dewasa yang melulu menyatakan bahwa semuanya biasa saja dan sudah semestinya demikian.

Segalanya telah disusun, diatur dan disimpan, dilengkapi dengan etiket dan merek-merek. Hampir tak ada, atau sama sekali tidak ada masalah lagi. Maka tak ada lagi tempat bagi rasa heran dan takjub, orang dewas sudah tahu semuanya. Tapi tidak bagi kanak-kanak. Kanak-kanak melihat kehidupan dengan mata bening, suatu kualitas cara memandang yang kemudian disadari oleh para filsuf. Kesadaran yang mendorong semua filsuf untuk membersihkan cara pandang dewasanya, “…apabila kita membersihkan jendela-jendela pengamatan kita, maka setiap hal akan muncul kembali di hadapan kita sebagai keadaan sebenarnya”.[3]

Kanak-kanak dapat melihat kenyataan sebagai keadaan sebenarnya, inilah yang ingin dicapai para filsuf. Sebagai ilustrasi berikut dikutipkan cerita yang menunjukkan perbedaan prang dewasa dan kanak-kanak.

Seorang anak bertanya, “Papa kenapa anak-anak itu bekerja di kebun dan aku tidak?”.

Anak itu berumur 6 tahun. Ayahnya punya perkebunan luas di daerah Florida, Amerika Serikat. Di kebun itu banyak buruh dipekerjakan, juga anak-anaknya. Anak 6 tahun ini tentu tidak dipekerjakan, tapi ia  menyaksikan dan membandingkan untuk kemudian bertanya, “mengapa?”.

Pertanyaan itu tak berhenti di situ.

Di umurnya yang ke-12 si anak menulis dalam pelajaran mengarang di sekolahnya:

“Aku sebenarnya ingin, orang-orang yang bekerja untuk kami sekeluarga bersikap berteman kepada kami. Sekarang, mereka takut pada ayah. Mereka takut kepada para mandor… Harus kuakui: aku kira mereka juga takut kepadaku. Bila aku datang ke dekat mereka dengan sepedaku, mereka pun berhenti berbicara, dan mereka bekerja sangat keras dan mereka berkali-kali memandang ke arahku, melihat apakah aku masih tetap di situ”.

Suatu hari yang lain, anak itu menggambar langit, sebuah lanskap dan sebuah matahari. Matahari itu amat besar. Di bawah bola yang menyala-nyala itu dilukiskannya para buruh bekerja memetik di kebun. Melihat itu, ayahnya merengut, “Matahari itu terlalu dibesar-besarkan,” gerutunya. Papa itu memang merasa anaknya kian kritis kepada keadaan di sekitarnya.[4]

Anak-anak dalam cerita itu bertanya “kenapa” dan bapaknya menjadi gusar. Orang dewasa menyebutnya “terlalu dibesar-besarkan”. Dan semua anak-anak, kaya dan miskin, seperti itu rupanya. Pada kisah yang lain yang disusun Coles, seorang Ibu Chicano di Texas mengemukakan, “Ketika anak-anak, saya masih kecil saya mencoba sedapat saya membuat mereka senang. Terkadang, sementara saya memeluk mereka, saya berkata kepada diri saya sendiri: tak lama lagi si kecil ini akan tahu tentang Texas…Yang paling celaka ialah bila anak-anak itu mulai bertanya: mengapa. Saya mencoba mencegahnya. Saya katakan kepada mereka, sudah, jangan bertanya-tanya begitu. Saya tak tahu kenapa orang-orang itu berada di atas dan kita berada di bawah…”[5]

Aih, betapa lalimnya menjadi orang dewasa, betapa pengecutnya. Kesadaran akan kebebalan orang dewasa dan penyesalan terhadapnya merupakan awal dari perbaikan kemanusiaan. Namun kembali menjadi kanak-kanak tentu saja tidak mungkin, terlebih kanak-kanak juga memiliki kelemahan: tidak konsisten dan kurang berpikir sistematis. Maka menjadi filsuf (atau berpikir seperti filsuf) adalah jawabannya.

Menjadi seperti kanak-kanak adalah ikhtiar untuk kembali menemukan kebeningan kita, tapi itu tak gampang dan mungkin saja tidak bisa dilakukan. Yang paling bisa dilakukan adalah pencapaian keheningan dari kesibukan kita yang bertubi-tubi. Menjadi filsuf, sebagai kesadaran bahwa kita tak lagi sebening kanak-kanak, berarti mengikhtiarkan suatu keheningan dan menganggap hiruk pikuk sebagai kerangkeng yang membuat kita tidak manusiawi. Keheningan menjadi barang langka, dan harus diupayakan agar kita bisa menemukan dunia kehidupan kanak-kanak. Jadi hal pertama yang harus dimiliki seorang filsuf adalah takjub berkeheningan.

Menjadi filsuf, sebagai ikhtiar membeningkan cara pandang,  dimulai dengan pengakuan akan kebebalan, seperti dikemukakan Socrates saya tahu bahwa saya tak tahu apa-apa. Lewat kesadaran inilah kemudian kita berusaha untuk memahami kata-kata, memahami kembali peristiwa-peristiwa dan kebiasaan-kebiasaan yang sudah dianggap lazim. Pengakuan akan kebebalan secara otomatis akan menggiring kita pada kesadaran cinta pada kearifan, pada kebenaran. Suatu kecintaan yang akan mengarahkan kita untuk tidak sekadar menjadi kanak-kanak yang terus bertanya dengan sedikit rasa tanggung jawab.[6]

Kaitan antara keempat sikap dan tujuan berfilsafat ini (takjub berkeheningan, pemahaman kata-kata, pengakuan kebebalan, dan cinta kealiman) berhubungan dengan empat unsur utama dalam filsafat. Dua unsur pertama bersifat teoretis, yaitu metafisika dan logika. Sedang dua unsur lainnya bersifat praktis, yaitu ontologi dan Ilmu. Berfilsafat adalah mengajukan pertanyaan, dan pertanyaan menjadi dasar dari keempat unsur filsafat ini:

  • Metafisika       : Apa yang merupakan realitas puncak?
  • Logika             : Bagaimana kita memahami makna kata-kata?
  • Ontologi          : Apa Makna ada?
  • Ilmu                 : Di mana garis batas pengetahuan?

Wilayah Metafisika merupakan cara untuk menghasilkan pengakuan kebebalan, Ilmu untuk cinta kealiman, Ontologi untuk takjub keheningan, dan Logika untuk pemahaman kata-kata.

Mari kita buat pembagiannya yang saling berkaitan:

  • Takjub berkeinginan (Ontologi: Apa maknanya ada?)
  • Cinta Kealiman (Ilmu: Di mana garis batas pengetahuan?)
  • Pengakuan Kebebalan (Metafisika: Apa itu realitas puncak?)
  • Pemahaman kata-kata (Logika: Bagaimana memahami kata-kata?)

***.

DARI manakah pertanyaan-pertanyaan dapat muncul? Dari rasa heran.

Siapapun yang dengan perhatian secara terbuka tanpa prasangka dalam melihat segala sesuatunya, akan mengalami kemunculan rasa heran. Belajar berfilsafat pada taraf tertinggi adalah: belajar merasa heran. Rasa heran menyebabkan orang tersentak bangun dan mulai memeriksa kembali apa yang sebelumnya dianggap biasa-biasa saja. Rasa heran berarti suatu keterbukaan ketika menemukan bahwa apa yang sebelumnya dianggap lumrah ternyata menunjukkan hal-hal di luar dugaan. Pada saat ini, muncullah pertanyaan-pertanyaan terhadap keyakinan lama.

Rasa heran adalah nama lama untuk perhatian yang menakjubkan, yang menyebabkan seseorang melihat sesuatu di dunia sebagai suatu pertanyaan yang mengasyikkan. Pada rasa heran ini dapat dibedakan unsur-unsur berikut ini: 1) Obyek yang menyebabkan keheranan saya itu berhadapan dengan saya sebagai sesuatu yang sama sekali tidak dapat saya pahami; sesuatu yang asing; sesuatu yang secara menakjubkan atau menakutkan memaksa saya untuk bertanya-tanya. Sesuatu yang semula biasa-biasa saja menjadi tampak misterius, sehingga pengetahuan sebelumnya menjadi tidak bisa digunakan lagi. 2) Perbedaan antara rasa tahu dan rasa aneh merupakan suatu keasyikan tersendiri. Realitas yang tiba-tiba saja tidak lagi bisa dikenali menghidupkan semangat untuk dapat mengetahuinya lagi dan lagi.

Rasa heran kemudian melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan kehidupan manusia, si penanya.Dengan pertanyaan itu terbukalah deretan yang menjuruskan rasa heran itu ke arah mengetahuinya, memahaminya. Apakah setelah itu rasa heran jadi punah. Mengetahui dan memahamin belum berarti memusnahkan rasa heran. Dalam kegiatan bertanya-tanya, rasa heran terus memuncak-muncak. Setiap dapat satu jawaban, jawaban itu harus menjadi obyek dari perhatian yang mendalam dan terkonsentrasi. Jadi dalam rasa heran dan dunia pertanyaan, setiap jawaban selalu memberi peluang untuk ditanyakan lagi. R. Beerling menyatakan kait kelindan ini dalam ungkapan,

“Jawaban yang sebenarnya atas pertanyaan-pertanyaan mengapa selalu terbuka lagi untuk ditinjau kembali.., jawaban itu selalu bergeser lagi ke arah kaki langit. Apabila kita menemukan sesuatu yang dahulu tidak dikenal, maka akan timbul lagi hal-hal tak dikenal yang baru”.[7]

***

APAKAH rasa heran muncul begitu saja? Tidak, rasa heran akan muncul begitu kita mau memberikan perhatian terkonsentrasi pada segala hal.

Seorang pelaut yang sudah tak memiliki kapal, terdampar di sebuah pulau asing. Setelah lelah dipermainkan ombak dan badai, terpaksan terbangun karena jeritan seekor bung Beo. Bukan karena kerasnya suara burung itu, tapi karena kalimat yang diulang-ulangnya, “perhatian-perhatian, di sini dan sekarang…di sini dan sekarang!” Pelaut itu takjub, dan bertanya pada pemiliknya, mengapa burung Beo diajar kalimat seperti itu, bukan kalimat lainnya seperti salam. Sang Pemilik menjawab, “Itulah yang selalu Anda lupakan bukan? Anda lupa untuk memperhatikan apa yang sedang terjadi.”

Demikian Aldous Huxley, dalam novel Pala Island menyindir kebiasaan kita yang sering melupakan apa yang seharusnya diingat: di sini dan sekarang. Manusia memang sering merasa betah pada satu hal, walaupun hal itu semula ia benci dengan kesumat. Misalnya, ada sebagian yang mengangankan masa lalu yang begitu gemilang untuk kembali mewujud pada hari ini. Keinginan ini membuat masa kini dan masa depan jadi tak ada, yang ada melulu masa lalu. Romantisme berlebih, demikian orang menyebutnya. Ada juga orang yang menganggap masa depan sebagai segalanya, saat ini hanyalah bangkai yang harus dihindari; masa lalu adalah bangkainya bangkai. Padahal hidup adalah hari ini, karena manusia sebenarnya tidak pernah mengalami hidup pada hari esok atau hari kemarin.

Filsafat adalah ikhtiar untuk mengembalikan manusia pada situasi di sini dan sekarang. Filsafat mengajak manusia untuk keluar dari rutinias yang membosankan menuju kebenaran yang mengasykkan. Rutinitas itu, kalaupun kita lakukan hari ini, sebenarnya berasal dari masa lalu atau untuk masa depan. Rutinitas adalah jebakan kebiasaan, karena kemarin begini maka besok juga begini, dan seterusnya. Di tengah rutinitas itu, tentu saja, kita jadi bagian dari kehendak bukan kita. Seruan burung Beo untuk memperhatikan di sini dan sekarang merupakan ajakan untuk keluar dari rutinitas, dan filsafat salah satu jalannya.

Kesadaran akan pentingnya memperhatikan secara terkonsentrasi pada kenyataan yang sedang dialami akan menerbitkan rasa heran. Tanpa perhatian yang terkonsentrasi, segala yang lewat dianggap biasa-biasa saja, tak ada yang aneh. Namun begitu kita mau berhenti sejenak untuk memperhatikan gejala-gejala (benda-benda, diri atau orang lain) kita akan menemukan sesuatu yang aneh, pada saat itulah muncul rasa heran dan serentak pula terbit pertanyaan.

Untuk ilustrasi rasa heran ini ada salah satu film Jim Carey yang menarik untuk diungkap. Hiduplah seorang pemuda yang cukup sukses dan bahagia di sebuah kota yang sangat menyenangkan. Semua tetangga menyapanya dengan senyum yang sangat tulus, semua orang di pasar, di jalan-jalan, di tempat ibadah begitu gemar tersenyum. Pemuda ini tentu saja merasa betah, kota itu surga baginya. Apalagi karir dan kehidupan ekonominya begitu luar biasa. Tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, dan karenanya tak ada satupun hasrat untuk mencari kota lain; pertanyaan sudah tak bisa diucapkan dari mulutnya. Namun suatu ketika ia jatuh cinta, dan kekasihnya hilang entah ke mana. Ia kangen dan ingin bertemu, tapi kemana? Tak ada kota lain yang ia kenal, sejak kecil ia hidup di kota bahagia tersebut. Ia berusaha mencari dan bertanya-tanya, namun setiap kali ia mau keluar dari kota ada banyak orang yang mencegahnya, bahkan memukulinya. Pemuda ini mulai curiga. Apalagi ketika ia mulai memperhatikan secara serius gejala-gejala di sekitarnya. Saat itu ia menemukan hal-hal yang berulang-ulang sama. Tetangganya keluar dari rumah pada jam yang sama setiap harinya, menyapa dengan cara yang sama; anjing melintas di depan rumahnya dengan cara dan jam yang sama; semuanya begitu sama bahkan ia bisa menebak apa yang terjadi setelah satu peristiwa. Pada saat itulah terbit rasa heran dan pertanyaan-pertanyaan. Kenapa semuanya selalu sama setiap hari? Kenapa kekasihnya pergi? Kenapa ia tak diizinkan ke kota lain?

Pemuda itu kemudian mencoba melarikan diri, ia berlayar menjauhi pantai yang semula dipujanya sebagai pantai bahagia. Ia dihalang-halangi dan dikejar, namun rasa heran dan penasarannya (karena tak menemukan jawaban) membuat ia tak perduli bahaya. Ia terus berlayar, mengayuh perahunya menuju ujung langit yang jauh. Tapi ternyata ujung langit itu berbatas, perahunya menabrak langit yang semula dianggap begitu tinggi dan tak terbatas. Pemuda itu kemudian tersadar bahwa dunia yang dihidupinya adalah dunia bualan, kota yang ditinggalinya adalah studio stasiun TV komersial dan dirinya adalah aktor televisi, juga semua orang di kota itu. Ia ternyata seorang manusia yang sejak lahir telah dijadikan aktor yang seluruh hidupnya diatur oleh skenario produser sinetron. Di ujung langit buatan itu, ia berdiri ragu. “Keluarlah dari kota ini, kau tak akan menemukan kebahagiaan. Di luar sana tak ada kota sesurga di sini..” teriak salah seorang produser sinetron itu. Tapi pemuda itu mau cinta dan kebahagiaan sejati, ia tetap keluar dan memeluk kekasihnya yang telah menunggu di luar kota buatan.

Perhatian yang terkonsentrasi dalam kisah di atas adalah pembebasan, terlebih jika diteruskan dengan menuruti rasa heran dan pertanyaan yang tak kunjung henti.

***

Di sebuah pasar. Seorang tukang sulap memamerkan kemampuannya dalam memukau penonton, ia bisa mengubah batu menjadi emas. Semua penonton bersorak takjub. Kecuali satu orang lelaki: tua, lusuh seperti tampang rakyat kebanyakan. Dari mulutnya keluar kata-kata yang menghentikan keriuhan tepuk tangan penonton, “babari, membuat batu jadi emas, mah. Coba jadikan hatimu beersinar-sinar dan mulia, alangkah sulit!”. Kalimat ini persis seperti ungkapan Yunani Kuno, “Kenalilah dirimu sendiri!” yang kemudian menjadi tema utama dalam banyak perbincangan filosofis.

Filsafat konon harus dimulai dari diri, seperti dikemukakan Heraclitos, Aku Mencari diriku sendiri. Pastikan dulu diri dapat dikenali, baru melangkah ke wilayah lain. Dan mengenali diri, alangkah sulit. Kita sering secara tak sadar mengalami situasi tenggelam-dalam-kerumunan. Tindakan, pikiran, atau kehendak dibentuk oleh kerumunan itu, sehingga kedirian tidak terumuskan. Jikapun ada rumusan itu berasal dari pemberian kerumunan itu. Derek Walcott, penyair dari Trinidad, pernah membuat sajak yang menceritakan situasi tenggelam-dalam-kerumunan itu. Alkisah di sebuah pulau diramaikan oleh banyak hal ada seorang anak yang didatangi nenek moyangnya, dari berabad-abad silam. Anak itu ditanya, “Siapa namamu?” Lalu menjawab sebuah nama dari bahasa luar pulau itu, serentak sang nenek moyang bertanya, “apa arti dari nama itu?” Namun sang anak bisa menjawab:

Aku tak tahu apa arti nama itu. Ada juga artinya,

Barangkali. Tetapi, apa bedanya? Di dunia tempat tinggalku itu

Kami menerima saja bunyi-bunyi yang diberikan:

Manusia, pepohonan, dan air.

Kami menerima saja bunyi-bunyi yang diberikan, itulah situasi tenggelam-dalam-kerumunan. Kerumunan itu memberikan banyak kata-kata yang menyihir kita menjadi penurut terhadap segala apa yang mereka katakan. Dalam kondisi seperti itu, filsafat dibutuhkan, “Filsafat adalah perang sabil terhadap pesona dengan apa bahasa mengikat pemikiran kita”, demikian ujar Wittgenstein. Bahasa dari kerumunan itu memasung pemikiran kita, dan pada saat itu dibutuhkan penjernihan konsep, suatu fungsi dari Filsafat analitik (salah satu tipe filsafat). Penjernihan konsep ini penting agar jerat-jerat bahasa kerumunan terungkap, yang dengan cara ini kita bisa melepaskan diri dan menjadi diri sendiri. Filsafat yang mengarahkan  ke jalan hidup yang manusiawi disebut Filsafat eksistensialisme.

Dua tipe filsafat itu menunjukkan bahwa filsafat bukan perkara yang jauh dari kehidupan kita. Filsafat adalah menjernihkan konsep, menjernihkan bahasa agar kita bisa mengerti; filsafat adalah menemukan jalan hidup agar kita lebih manusiawi.

“Berfilsafat adalah sauatu cara berpikir yang tidak berdasarkan atas apapun juga selain daripada pengalaman dan cara berpikir sendiri. Yang dimaksud dengan cara berpikir adalah berpikir sendiri mengenai pengalaman yang dialaminya sendiri atau sekurang-kurangnya pengalaman yang disbebakan oleh inspirasi atau khayalannya. Oleh karena itu, berfilsafat tidak mengizinkan masuknya setiap kekuasaan (pengaruh) dari orang lain, yang untuk saya, mengalami dan berpikir atas nama saya, lalu mengatakan kepada saya apa yang harus saya terima saja.” (Paperzak)

“Setiap orang yang bersedia dan cenderung bertanya kepada dirinya sendiri mengapa dia melakukan ini atau itu, dia sedang berfilsafat. Berfilsafat bukan pekerjaan kaum elit saja”[8]

Manakah yang lebih baik dari keduanya? Adakah filsafat yang baik? Tentang filsafat yang baik dan yang tidak baik, Plato pernah menyatakan “…bahwa yang pertama membuat orang menjadi lebih baik dan yang terakhir tidak” Dikaitkan dengan dua tipe filsafat di atas, filsafat yang baik adalah gabungan (sintesa) antara keduanya. Jadi Analitik yang mengarah pada eksistensi, dan atau eksistensialisme yang memperhatikan analisa. Jadi filsuf eksistensialis yang baik ialah yang dapat mengarahkjan perhatian kita ke bidikan puncak kemanusiaan tanpa penggunaan bahasa yang ruwet dan menyesatkan (yang mengaburkan kebenaran); sedang filsafat analitik yang baik adalah yang bisa berbahasa dengan gamblang tanpa kehilangan wawasan-wawasan terhadap bidikan-bidikan pembelajaran (untuk hidup yang lebih baik).[9]


[1] C,A Van Peursen, Orientasi di Alam Filsafat, PT. Gramedia, Jakarta, 1980, h.2

[2] Geraard Beekman, Filsafat Para Filsuf Berfilsafat, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1984, h. 23

[3] Blake, W., The Mariage of Heaven and Hell, 1872 dikutip dari Geraard Beekman hal. 40

[4] Dikutip dari Gunawan Muhammad, “pertantaan anak anak”, dalam Catatan Pinggir 1, hal. 530. Konon  ini adalah cuplikan kisah nyata dari Priveleged Ones hasil penelitian Rovert Coles terhadap anak-anak orang kaya di Amerika.

[5] Ibid., hal. 531

[6] Stephen Palmquis, The Tree of Philosophy, Philosopgy Press, Hong Kong, 2000,

[7] R. Beerling, dikutip dar iGeraard Beekman, hal. 49

[8] Ortega y Gasset, J., Wat is Filosofie, 1960, h. 14

[9] Palmquis, The Tree of  Philosphie, 2000, hal. 10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: